Hi my name is Elkana. I am going to talk about legos and bionicles. Legos are toys you can make things with it.It can be in a box and in the box you can make a big toy to play with. bionicles are good because it is hard and it is betar than leogs. It is my creation
Tuesday, February 20, 2007
Saturday, February 17, 2007
Kaus Kaki Bolong...?
Heran deh, sejak Elka dan Farhan masuk SD kaus kaki kaki mereka cepat sekali rusak. Lubang-lubang berwarna coklat menganga di bagian bawah jari kaki seperti habis dipakai berjalan tanpa sepatu di tanah lapangan keras. Tidak saja kaus kaki, bahkan sepatu mereka juga memperlihatkan tanda-tanda yang sama. Bolong! di bagian telapak kaki depan, atau di bagian atas jari kaki. Bolongnya seperti kanfas rem yang sering direm mendadak. Gak mau kalah, celana panjang mereka juga bolong di bagian lutut. Awalnya sih terlihat beset-beset seperti kena amplas. Lama-lama robek dan mengangga lebar seperti tertawa mesem. Jadi keluarnya uang dollar kertas berwarna merah ($20) dan kuning ($50) membengkak tiga kali lipat untuk beli kaus kaki, sepatu dan celana panjang.
Sewaktu Farhan masih di tk dan Elka grade one di SD, tiap hari sepatu dan kaus kaki mereka berwarna coklat dan berlumuran pasir. Di TK dan sekolah memang ada pasir yang sengaja ditaro untuk main. Saya sampai khawatir pasir-pasir itu habis akibat terbawa sama anak-anak setiap hari. Apalagi Farhan, celana sekolahnya juga ikut full pasir. Jadi tiap pagi saya mbalik dan ngoyang-ngoyangin sepatu farhan supaya pasirnya jatuh. Amir juga paling gak sebulan sekali masukin sepatu-sepatu bergambar spiderman dan kura-kura ninja itu ke mesin cuci kami yang dahsyat, bisa mencuci apa pun yang masuk dengan baik. Ketika keduanya di SD (Farhan di prep dan elka grade 1), kasus bolong ini semakin menjadi-jadi. Bahkan rupanya celana bolong ini diproduksi seimbang antara elka dan farhan. Tapi, kasus pencurian pasir yang masuk dalam sepatu sudah tidak ada lagi.
Keheranan saya terjawab sdikit-sedikit waktu saya sering ke sekolah. Bolong yang menimpa kaus kaki, sepatu, dan celana itu akibat pola bermain mereka. Dalam permainan apapun yang mereka lakukan, elka-farhan menjatuhkan diri atau jatuh di atas karpet yang nyaman dengan kaki dan lutut mereka sebagai rem. Nah rata-rata 3 jam setiap hari mereka melakukan aktivitas fisik di sekolah dan aftercare program. Pantas saja kaus kaki bahkan sepatunya bolong pada bagian depan. Sejak itu elka dan farhan jarang sekali pake celana pendek, soalnya daripada lutut mereka yang jadi rem, mendingan celana panjang mereka yang jadi tumbal.
Lucunya mereka lebih menyukai celana bolong itu daripada celana barunya. "Bolong? who cares?" kata mereka.
Wednesday, February 07, 2007
Australia Day
Australia Day dirayakan setiap tanggal 26 January. Pada perayaan Australia day tahun 2007 ini Elka dan Farhan bersama Rifki ikut pawai Australia Day di city.
Pawai dan perayaannya bertemakan Australian Unity, intinya sih seperti Bhineka Tunggal Ika aja, menyatukan semua elemen masyarakat yang berasal dari beragam bangsa dan berkarya di berbagai bidang untuk punya semangat kesatuan. Misalnya di bawah ini dari komunitas Kroasia dan dari grup atletik.
Tapi yang paling banyak mendapat sorotan adalah komunitas bangsa atau katakan saja etnis, misalnya dari Italia, Cina, India, dan termasuk Indonesia. Dari pawai ini kelihatan yang cukup berhasil dalam beradaptasi 'menjadi Australia' adalah komunitas Cina. Lha wong walikota Melbourne yang sekarang juga keturunan Cina kok. Yang terlihat serba salah adalah dari negara-negara Islam seperti Pakistan dan Libanon. Apalagi yang terakhir ini sering memperlihatkan potensi rasial vis a vis kulit putih. Cukup kontras melihat barisan perwakilan dari Pakistan yang hanya sekitar enam orang saja dan barisan Indonesia yang tepat dibelakangnya. Pakistan hanya diwakili oleh laki-laki, berjenggot, tanpa kemeriahan pakaian adat (malah kesannya sedikit menakutkan begitu, karena menggambarkan kelompok Islam radikal...). Sedangkan barisan Indonesia begitu colourful, meriah, imbang antara laki-laki dan perempuan (bahkan lebih banyak perempuan). Tapi harus diapresiasi kalau kelompok-kelompok 'ragu' seperti Pakistan itu ada keinginan untuk berpawai dalam 'Australia bersatu', karena kalau tidak mungkin bisa menjadi contoh kasus clash civilization antara Islam dan Barat.
Nah Elka, Farhan dan Rifki termasuk barisan depan. Trims untuk kak Ning (ketua grup seni) yang mengatur pawai dan Nana (mamanya Rifki) yang mengajak dan mengenalkan saya dengan kak Ning. Berkat mereka, Elka dan Farhan bisa ikut pawai.
Setelah pawai selesai, Elka, Farhan dan Rifki menikmati berbagai hiburan. Mereka bermain bola pukul (wah gak tahu namanya apa ya...), jumping castle, naik jembatan pramuka, komidi putar, dan golf. Terakhir ketika pulang kami berfoto deh di depan fotonya si 'c'mon!,' bukan si Cemon tapi Hewitt bintang tenis Australia. Australia Day juga bertepatan dengan even tenis internasional yaitu Australia open. Jadi Melbourne ramai dengan turis. Kota Melbourne ini memang kota turis, dan semua even itu dikelola baik sekali untuk menyenangkan dan mendatangkan turis serta membuat penduduk Melbourne senang...
Happy Australia Day...
Tuesday, February 06, 2007
Sovereign Hil: Mengalami Sejarah...
Tanggal 27 January, sehari setelah Australia Day, kami jalan-jalan ke Sovereign Hill, di Ballarat, Melbourne. Ini benar-benar wisata sejarah di mana pengunjung diajak untuk mengalami sejarah itu sediri. Diantaranya
memakan makanan seperti tahun 1850 di Ballarat (permennya kami makan sekeluarga baru habis dalam satu hari...),
bersekolah dan belajar menulis huruf latin dengan pena (sebenarnya banyak sekolah negeri dan madrasah di Indonesia dalam kondisi seperti ini atau jauh lebih sederhana dari sekolah tahun 1850 ini),
dijaga oleh prajurit bergenderang dengan pakaian yang fancy,
memakai pakaian ala cowboy dan cowgirl (sampai pakaian dalam dan aksesoris seperti jam dan anting, sesuai dengan tahun 1850 itu),
mendulang emas (pasir-pasir dan debu emas masih banyak di temukan di aliran sungan kecil itu lho...),
dan pesta gelembung air (bubles)!
Kota ini dibangun kembali untuk tujuan wisata. Dan setiap harinya dibantu oleh sekitar 250 orang volunteer yang berperan sebagai penduduk sovereign hill tempo doeloe: ada yang mendulang emas, membuat permen, membuat panci dan piring, naik kereta kuda, dst. Tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, kelihatannya semua aspek bisa dijadikan uang. Mereka juga tidak lupa untuk memberi entartainment untuk anak-anak diantaranya ya gelembung air itu. Dan yang paling berkesan adalah 'gold mine tour' di mana kami masuk ke bawah tanah untuk melihat penggalian emas tempo dulu. Jaman dulu perempuan gak boleh masuk, tabu dan bisa membawa sial katanya. Ih orang Melbourne dulu percaya tahayul juga... Tapi memang dunia penambang itu sangat keras dengan resiko kehilangan nyawa yang sangat tinggi. Dulu anak-anak dipakai sebagai buruh kasar yang seharinya mendapat upah setengah upah orang dewasa.
Duh padahal di Indonesia kita punya banyak potensi wisata sejarah. Seandainya bisa dikelola seperti ini, pasti luar biasa.
Monday, February 05, 2007
from monday
by farhan
in Monday i went to School and it was lunch time. then i played with Fatima a little bit then wi line up in the lineing up area. then wi went up the stairs
Antara Pertemanan dan Kegiatan Anak-anak
Weekend kemarin saya agak kerepotan mengatur Elka dan Farhan karena teman-teman mereka. Bukan karena teman-temannya ini berumur 5-7 tahun lebih tua dari Elka (7) dan Farhan (6), tapi karena mereka keranjingan game (xbox, PS, computer games), dan cenderung tidak mau berbagi dalam permainan. Elka dan Farhan senang sekali dengan kehadiran teman-temannya ini sepanjang hari di rumah, tapi tidak berdaya jika mereka merasa dirugikan. Selain itu Elka-Farhan cenderung mendengar teman-temannya daripada mengikuti kegiatan keluarga. Kami jadi serba salah mengatur anak-anak dan kehilangan privasi di rumah sendiri.
Masalah privasi sudah bisa tertangani dengan memberikan aturan tegas tidak boleh masuk kamar. Anak-anak juga mengerti walaupun keberisikan mereka di ruang tamu tetap terdengar sampai kamar. Sebelumnya mereka tetap bermain di kamar walaupun saya atau Amir sedang bekerja atau istirahat di kamar yang sama. Ini memang karena kami terlalu terbuka. Jadi kebijakan mengenai privasi sudah ketok palu. Kemarin pun anak-anak beserta teman-temannya mau ketika saya minta untuk main di halaman atau di taman. Walaupun cuma 1 jam, lumayan lah bisa membuat mereka olah raga dan tidak menyentuh xbox.
Kami merasa serba salah mengatur Elka dan Farhan karena selama ini saya dan Amir berusaha keras untuk membatasi permainan game, entah itu di komputer maupun di xbox. Kalaupun kami bolehkan, keduanya dalam batas waktu yang rasional dan diarahkan untuk belajar membaca atau strategi menyelesaikan masalah. Sulitnya teman-teman besar Elka dan Farhan ini mereka yang hobi game. Jadi target utama datang ke rumah adalah komputer dan xbox. Tidak mungkin bagi kami untuk membuang komputer dan xbox dari kamus anak-anak hanya karena pengaruh teman-temannya. Toh Elka dan Farhan sudah bisa belajar mencari tahu sesuatu melalui internet termasuk menulis di blog. Selain pengaruh game mania, teman-teman mereka sering memonopoli permainan dan tidak mau berbagi. Saya sering terganggu karena tangisan dan komplain Elka dan Farhan ditujukan ke saya akibat tidak dapat giliran main. Sulitnya Elka dan Farhan terkadang kurang mendukung kalau saya bersikap tegas, karena mereka khawatir tidak mendapat teman. Sampai pernah saya terpaksa membiarkan seorang anak untuk main komputer di rumah sedangkan saya, Elka dan Farhan pergi bersepeda dan belanja!
Saya baru menghayati mengapa sebagian orang tua suka membatasi pergaulan anak-anaknya, dengan cara yang langsung atau tidak langsung. Mungkin cara tidak langsung lebih nyaman dan bisa tetap menjaga hubungan baik berteman. Caranya ya dengan memberikan anak berbagai macam kesibukan. Jadi sosialisasi dengan teman-teman yang kurang sejalan dengan kegiatan mereka, akan berkurang dengan sendirinya.
Untuk ke depan, saya akan mencoba kedisiplinan waktu dan ketegasan, tapi diimbangi dengan dua hal: pemberian poin bintang sebagai hadiah dan memberikan lebih banyak kegiatan ketika weekend. Mengenai disiplin dan ketegasan, pasti akan ada kesan mama cerewet, mengatur-atur terus, atau ini gak boleh itu gak boleh. Saya memang khawatir kesan itu muncul sehingga mereka tidak mau menganggap saya sebagai teman. Jadi saya imbangi dengan lebih generous memberi poin bintang. Dan tentu saja memberi kegiatan reguler buat anak-anak, seperti ngaji Iqra, berenang, main bulu tangkis, dan belanja. Bisa saja dalam beberapa kegiatan teman-teman mereka ikut serta. Tapi jelas kami yang leading, bukan anak-anak. Hmm coba ah saya diskusiin dengan Elka dan Farhan...
Setelah saya pikir, rupanya memang mau gak mau orang tua harus memberikan perhatian dan waktu untuk anak-anak, kalau mau anaknya menjadi sesuai dengan keinginan....
Sunday, February 04, 2007
about 50 stars
by elkana
Me and farhan and my mum made a promise we can get a toy or a game when we get 50 stars.
We can trade our stars cheap things and we could lose stars.If we want to get 50 stars we can do the dishes make the bed pack up toy serve food to mum and dad help people teach others.
Trading Stars
Two weeks ago Amir and I bought a quite expensive lego for Elka and Farhan. We could not avoid that because we promise that they could have presents they like if they get 50 stars. Each of them got 50 stars after collecting them around a month and a half from activities such as having shower, packing up rooms, no playing xbox, reading iqra books, and finishing their dinner or lunch.
Our effort to save money by preventing their wishes to buy toys all the time is fail. Because this way only accummulates their dreams to have toys. And this way could not eliminate their requests to have treats such as ice creams, fried chickens, burgers, and other junk food.
We have a new strategy namely trading stars. This time they can loose their stars and trade them with toys or junk food they like. One star equivalent to $1. I am happy that both Elka and Farhan agree with this new plan. They said its fair.
Yesterday both Elka and Farhan lose several stars they had for having fried chicken and pasta from their favourite restaurants. I hope this plan will run well.
Saturday, February 03, 2007
Happy and Messy
Thursday, January 25, 2007
PhD supervision
I am quite happy that finally the institute where I study does something regarding student supervision. I did not really care about supervision actually, from the very beginning of my Ph.D candidature. My principal supervisor resigned before I did my confirmation examination. I was like in the middle of nowhere. It was terrible situation because I came to this institute to learn from this person expertise. I could not blame the resigned supervisor. If I were in his position I might do the same as he did. What made me skeptical about supervision was that the institute was powerless and could not help me to continue supervision with the resigned supervisor. Other students and I were encouraged to choose someone from the institute as our formal supervisors; where actually has very limited resources.
After three years of my study, it seems that these formal supervisors were too kind to me; they never want to disturb my enjoyable study. I did two fieldworks in Indonesia and an archive research in the Netherlands, and went from a conference to a conference (from East to West, North to South). Last year I wrote only one very rough chapter that I was not satisfied at all. However, my supervisors neither gave complaints nor comments on what I wrote and I did. I think my supervisors are too kind and see me with too high standard so I did not really need ‘help.’ Or they just want to let me being supervised informally with my resigned supervisor, who is my shadow supervisor. This shadow supervisor is very helpful: reading my chapters, reports and essays; giving comments, references, and suggestion too. The only problem is he is too far away. I always break my promise to send him a revised chapter or even a progress email every month.
I know this is certainly unusual and bad direction. But I did not want to make a pressure on my recent supervisors too. I am doing my own project research, not them. So, I feel I get a freedom to do what I want to do. What a positive thinking! After three years I would say that I enjoyed of having not enough supervision.
Now, the institute wanted to encourage these supervisors to be more helpful. I welcome. Its good deed, why not supporting it? In fact, I do need help that urge me to write my thesis chapters. I am looking forward to have a different way to enjoying my phd.
By this curhat I just one to give advice. For those of you want to take PhD studies, please choose the right supervisor. If you get the wrong one, keep cool and enjoy it! :)
Saturday, January 20, 2007
Membagi Waktu
Rupanya sulit sekali. Tidak semudah membaca teori tentang membagi waktu. Karena waktu itu abstrak. Dan sesuatu yang diberikan waktu itu juga relatif. Mungkin itu yang membuatnya sulit. Istilah yang sering dipakai adalah juggling between, works, study, and family. Seperti badut yang memainkan bola di udara, dan berupaya menjaga keseimbangan supaya bola-bola itu tertangani semua, tidak ada yang jatuh dan menjadi korban.
Kesadaran akan "juggling" di atas malah menambah kesulitan. Tarik-menarik justru lebih kuat karena ada kesadaran penuh tentang prioritas: mementingkan studi pribadi atau memprioritaskan pendidikan anak-anak, atau prioritas bekerja supaya dapat mendatangkan capital untuk memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak. Sulit. Misalnya, ketika mood menulis sedang bagus dan ingin kerja di kampus sampai larut malam, tapi hati tak tega rasanya. Panggilan telepon dari anak-anak yang sesekali menyapa dan menanyakan kapan pulang, membuat pikiran sudah melayang ke rumah. Apalagi mengingat kalau pulang larut, anak-anak suka tidur di ruang tamu, karena menunggu ibunya pulang. Berat rasanya kalau sedang dikejar deadline pekerjaan atau studi, tapi pada saat yang sama harus mengajarkan ngaji atau berkomunikasi dengan anak-anak dan suami.
Bisa saja kita berdalih, ah biar sekali-kali kan tak apa. Sekali-kali biar suami yang njemput anak-anak, sekali-kali anak-anak dibiarkan bermain xbox sepanjang hari, dan sesekali anak-anak makan junkfood. Tapi justru ini yang berbahaya. Karena virus 'sekali-kali' ini kalau sudah masuk ke software kita, pasti akan merusak semua program. Dan kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sudah jauh meninggalkan kesadaran akan juggling di atas.
Mungkin yang lebih merasakan kesulitan ini adalah ibu. Karena peran domestik ibu biasanya lebih dominan dibandingkan ayah apalagi dalam kultur patriarki yang kental. Enaknya hidup di Australia atau negara Barat lainnya adalah bias gender dan kultur patriarki tidak terlalu kuat. Tidak ada tetangga yang membicarakan jika yang menjemur pakaian adalah suami, bukan istri; tidak ada oang tua yang terganggu jika anak laki-lakinya masak untuk istri dan anak; tidak ada yang mencemooh jika suami menganggur atau penghasilannya lebih rendah dari istri. Mungkin saja di Indonesia sebenarnya cukup enak bagi perempuan karir karena banyak asisten yang bisa membantu sehingga waktu untuk keluarga dan kerja atau studi bisa maksimal. Ada nenek dan kakek yang bisa membantu menjaga cucu; ada babby sitter, ada pembantu rumah tangga, ada adik dan kakak yang bisa diminta tolong. Tapi tentu saja, nantinya akan timbal balik dimana waktu yang untuk anak-anak dan suami juga terkurangi oleh waktu untuk keluarga besar.
Kembali ke prioritas, apa pun prioritas yang dipilih itu pasti ada resikonya. Walau kita berupaya adil terhadap pekerjaan, studi dan keluarga, tentu tidak bisa adil sepenuhnya. Tetap saja tetap ada satu hal yang sering kita prioritaskan lebih dari yang lain. Ini seperti keadilan semu poligami, yang tentu saja tidak bisa sepenuhnya adil. Prioritas ini adalah pilihan, yang kadang kita tidak sadar ketika memilihnya atau meninggalkan prioritas yang lain. Kalau pilihan sadar sih tidak mengapa, karena nanti tidak perlu kaget dengan hasil dan resikonya, apalagi resiko yang negatif.
Jadi bagaimana sebaiknya membagi waktu? Satu hal yang sering kita dengar tentu kedisiplinan. Mungkin tepatnya disiplin yang berhati". Artinya, disiplin itu penting, tapi jangan terlalu ketat. Kalau terlaku ketat, terkadang menghilangkan substansi. Seperti waktu untuk belajar tidak perlu dipaksakan kalau pikiran sedang tidak ke studi tapi ke masalah anak. Mungkin terlihat agak aneh dengan "disiplin yang berhati" ini. Karena dalam kata lain berarti menjalankan disiplin yang tidak terlalu disiplin. hehe. Tapi ini hanya satu dari banyak cara untuk membagi waktu. Tiap orang pasti punya trik dan cara masing-masing dalam membagi waktu ini --kalau yang sadar. Kalau enggak, al-waqt ka al-saif. Waktu itu seperti mata pedang. Kalau kita tidak bisa mengendalikannya, kita akan tertebas oleh mata pedang itu.
Mungkin yang tepat itu bukan membagi waktu, tapi mengendalikan waktu...
Saturday, January 13, 2007
sydney new years day
Ternyata, rumput tetangga tidak lebih indah dari rumput sendiri...
Nah, kaitannya dengan liburan kami sekeluarga di Sydney pada akhir tahun 2006 sampai tahun baru yang lalu. Memang sih kami ubek-ubek Sydney cuma 4 hari. Waktu yang tidak lama untuk bisa memberikan judgement yang obyektif. Tapi dari hasil 'observasi' singkat ini saya berpendapat bahwa dalam hal turisme kota Melbourne itu lebih baik dari kota Sydney. Penilaian ini bukan membandingkan antara St. Kilda dengan Bondi Beach misalnya, atau membandingkan Circular Quay dengan Federation Square. Tentu saja, masing-masing kota punya keunikan sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan. Tapi menurut saya kota Melbourne lebih baik dari kota Sydney dalam hal:
1. Keramahan-tamahan komunitasnya khususnya orang yang bertugas di publik service. Jarang sekali kami temui misalnya petugas stasiun dan supir bus yang baik dan mau sabar menghadapi turis yang tidak tahu banyak mengenai publik transport. Di Melbourne, di tempat-tempat yang ramai baik di jalan, stasiun kereta dan pemberhentian tram, ada petugas yang memberi informasi mengenai publik transport dan ada pula petugas yang bisa memberi informasi mengenai tempat-tempat wisata di Melbourne. Para petugas ini sangat helpful. Kalau melihat seseorang yang bingung atau lama ngelihatin peta, dia pasti segera datang dan bertanya "May I help you?"
2. Mungkin ini ada hubungannya dengan keramahan di atas, tapi bedanya ini adalah budaya di jalan. Jika di Melbourne, pejalan kaki itu dihargai sekali, di kota Sydney . Memang di Sydney aturannya juga begitu, tapi bayangkan siapa yang tidak senewen kalau kita lagi nyebrang jalan tapi didengarkan suara gas bus dan mobil yang meraung-raung tidak sabar mau cepat jalan dan 'meminta' kita supaya cepat nyebrang. Belum sampai kaki di sebrang jalan, bus sudah jalan di belakang kita. Mengenai bus ini, saya dan Amir sepakat kalau gaya para supir bus ini tak jauh beda dengan supir metro mini di Jakarta! Ini memang bus regular. Tapi bus regular di Melbourne jauh dari kultur kebut-kebutan dan tidak sabar seperti di Sydney.
3. Tidak ada yang gratis! Libur tahun baru, di Sydney cuma ada diskon publik transport. Di Melbourne, beberapa hari libur seperti Natal dan Tahun Baru, public trasport itu free! Setiap hari ada bus turis gratis untuk keliling kota Melbourne. Ada juga tram yang disebut city circle yang kerjanya keliling kota, juga gratis. Selain Melbourne itu lebih generous, masyarakat juga di-encourage supaya naik public transport. Dan tentu saja ada diskonnya. Misalnya ada tiket sunday saver yang bisa dipakai untuk bepergian keliling kota Melbourne (unlimited travel) baik itu pake tram, kereta api, maupun bus pada hari minggu dengan hanya membayar $2.50.
4. Kebersihan kota. Masih di airport Sydney, ketika kami keluar untuk antri taxi, kami sudah disuguhi dengan bau kencing yang menyengat. Di luar airport pun pemandangannya tidak menyegarkan. Yang terlihat cuma dinding-dinding bangunan parkir yang suram tanpa landcape taman yang indah. Perjalanan dari airport ke suburb dan city disuguhi dengan pemandangan yang suram. Beda dengan airport Melbourne. Lingkungan airport cukup menyegarkan dan perjalanan dari airport ke city juga disuguhi pemandangan yang menyenangkan.
Jadi, saya baru mengerti, kenapa kawan saya Eka Sri Mulyani yang tinggal di Sydney begitu antusias dan terkagum-kagum ketika datang ke Melbourne. Katanya "this is the real Australia..." hehe. Soalnya dia bilang kota Sydney itu apa bedanya dengan kota Jakarta yang penuh dengan bangunan-bangunan tinggi. Sedangkan di Melbourne bangunan bergaya victorian itu bisa banyak dilihat dan masih terawat baik.
Dari hasil jalan-jalan ke Sydney, saya pikir kalo Melbourne ini kota turis yang luar biasa. Lebih hijau, ramah, dan generous! Tentu saja ini dari kacamata turis.
Saya mau menikmati Melbourne ah musim panas ini...
Wednesday, January 03, 2007
Hukuman Mati Saddam: Sebuah Kesalahan Besar
Akhirnya Saddam digantung mati sehari menjelang awal tahun 2007. Saddam menghadapi kematiannya dengan berani. Ia tidak mau memakai tutup kepala sebelum digantung. Bahkan ketika algojo memaki-makinya dan memuji muji pemimpin Syiah, Saddam masih sempat membalas makian itu. Dan akhirnya, kalimat syahadat yang diucapkan Saddam terhenti, menandakan ruhnya sudah meninggalkan jasad.
Kematian yang tragis. Mungkin itu yang harus dibayar oleh Saddam atas kekejaman dia ketika menjadi presiden Irak. Tapi apakah dengan kematian Saddam perang Sunni-Syiah akan berhenti? Tidak. Justru kematian Saddam menjadi bahan bakar utama. Apalagi proses peradilannya tidak transparan dan adil.
Banyak orang berpikir, kekejaman harus dibayar dengan kekejaman. Apalagi ada ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa penghilangan mata harus dibayar dengan mata, tangan dibayar dengan tangan, dan jiwa dengan jiwa. Dan karenanya hukuman mati bagi Saddam adalah balasan atas pembunuhan yang dilakukan Saddam. Kelihatannya adil, tapi sebenarnya itu hanyalah keadilan semu. Dan ayat Qur’an yang menyatakan “mata dibayar mata” dst itu haruslah dibaca sebagai alternatif terakhir. Bukan satu-satunya cara memberi hukuman atau malah cara pertama memberi hukuman. Alternatif pertama adalah permintaan maaf dan musyawarah. Selayaknya keluarga yang dibunuh bisa bermusyawarah dari yang paling ringan yaitu menerima permintaan maaf sampai meminta berbagai macam konsesi (uang dan benda berharga misalnya). Toh jiwa yang sudah melayang tidak bisa digantikan lagi.
Tapi kelihatannya alternative terakhir itu sudah menjadi pilihan pertama. Apalagi dalam kasus Saddam. Pengadilan itu disitir oleh keinginan Bush untuk menjalankan dendam pribadinya menghilangkan nyawa Saddam melalui tangan pengadilan Irak.
Ada dua kesalahan yang tidak disadari Irak dengan digantungnya Saddam. Pertama, Amerika benar-benar sudah menjajah dan menyetir Irak sesuai dengan keinginan politik Amerika, entah itu dendam pribadi Bush maupun dollar yang didapat dari kekayaan minyak Irak. Kedua, perang saudara antara Sunni dan Syiah akan semakin bergejolak karena kematian Saddam merupakan minyak panas yang akan membakar kemarahan pihak Sunni terhadap Syiah.
Inikah yang disebut demokrasi? Apakah masyarakat tertentu harus harus dipimpin oleh rejim diktator biar negara sejahtera? Apakah kesejahteraan Irak sebelum ini hanyalah kesejahteraan semu sebagaimana Indonesia dibawah rejim Orde Baru? Sebegitu kuatkah keinginan power dan harta itu? Entahlah. Yang diambang mata hanyalah dendam kesumat yang sebenanya tidak bisa menghentikan perang. Jika dendam dibalas dendam, kekerasan dibalas kekerasan, perang dibalas perang, apa bedanya Bush dengan Saddam? Dan kelihatannya dunia akan hancur oleh manusia sendiri karena nantinya nuklir dibalas dengan nuklir. Bisa jadi takdir kiamat itu ada di tangan manusia….
Wallahu a'lam
Friday, December 15, 2006
Profesionalisme Amil Zakat
Amelia Fauzia*
Amil zakat merupakan profesi yang serba salah, seperti halnya seorang kyai atau da’i. Di satu sisi, mereka diminta supaya bekerja secara profesional tapi di lain sisi mereka masih ditabukan untuk meminta bayaran. Karena itulah maka perzakatan di negeri kita selama berabad-abad tidak berkembang salah satunya akibat kerja amil yang dijalankan secara sambilan. Dari masa kerajaan Islam sampai abad ke sembilanbelas kondisi keamilan tidak berkembang lebih baik, kecuali awal abad kedua puluh dengan mulai beralihnya pemberian sumbangan langsung kepada fakir miskin dengan pemberian ke organisasi yang dimotori oleh Muhammadiyah. Berkat momentum Dompet Dhuafa dan kejatuhan Orde Baru lembaga amil sekarang berkembang lebih maju dengan terbentuknya institusi amil zakat atau institusi filantropi yang menghimpun dan mendayagunakan berbagai potensi kedermawanan sosial Islam.
Semangat kehati-hatian dan pengawasan terhadap lembaga amil zakat sangat perlu seperti yang ditulis oleh Abd. Salam Nawawi dengan judul ”Mewaspadai Penyimpangan Amil Zakat” (Jawa Pos 22/10/06). Namun kehati-hatian itu selayaknya diarahkan untuk lebih memprofesionalisasikan institusi amil zakat termasuk dalam pendayagunaan dana zakat.
Bentuk Amil Zakat
Di Indonesia, setidaknya ada tiga bentuk amil (pengelola zakat), yaitu amil individual, amil kepanitiaan, dan amil kelembagaan. Amil individual atau perorangan mengemban amanat dari masyarakat untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat atas dasar integritas pribadinya serta pengetahuannya tentang hukum Islam. Amil individual ini berperan cukup penting sejak abad ketigabelas dan diperankan oleh fungsionaris agama Islam seperti yang biasa disebut, ustadz, kyai, teungku, dan kayim. Saat ini amil individual masih berfungsi di daerah pedesaan, bahkan di beberapa tempat ada yang menjadi jabatan seumur hidup. Akibat kemajuan dan kompleksitas masyarakat terbentuklah amil kepanitiaan dan kelembagaan. Amil kepanitiaan ini biasanya dibentuk di masjid, sekolah, lingkungan RT/RW, dan tempat kerja. Keberadaan amil kepanitiaan hanya temporer khususnya untuk mengumpulkan zakat fitrah menjelang Idul Fitri. Amil kelembagaan adalah institusi yang mengelola dana zakat dan dana filantropi (kedermawanan sosial) Islam lainnya seperti sedekah dan wakaf. Ada dua jenis, yaitu institusi amil atau filantropi Islam yang ada dibawah pemerintah dan disebut Badan Amil Zakat (BAZ), dan institusi amil non pemerintah yang disebut Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Lembaga amil non pemerintah mendapat berkembang pesat khususnya di wilayah urban. Dalam perjalanannya, perkembangan LAZ jauh melebihi BAZ dari sisi penghimpunan, pendayagunaan, dan transparansi, walaupun ada beberapa BAZ pemerintah daerah yang cukup baik seperti Bazis DKI Jakarta dan BAZ Sumut.
Kinerja dan Hak Amil
Benar bahwa amil adalah mustahik (orang yang berhak menerima zakat) dan sekaligus juga muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat) khususnya ketika amil merupakan orang yang mampu secara ekonomi. Gaji atau hak amil ini merupakan konsekuensi logis atas kerja seseorang amil yang ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Taubah ayat 60.
Sistem gaji dan peningkatan status amil sebagai salah satu profesi muncul akibat kritik terhadap sejarah panjang lembaga keamilan yang mayoritas ‘hidup enggan mati tak mau’ karena diurus paruh waktu dan tanpa administrasi yang baik. Dilihat dari perkembangan sejarah, kinerja amil sekarang sudah lebih baik. Pada abad ke sembilanbelas, Snouck Hurgronje (Penasihat urusan Pribumi) memaklumi para amil yang mengambil porsi pembagian zakat cukup banyak karena mereka adalah mustahik atas dasar kerja ke-amilannya dan statusnya sebagai orang miskin. Kondisi ini berjalan tanpa ada pengawasan yang memadai dari pemerintah. Badan amil yang kemudian dibentuk pemerintah mulai tahun 1984 pun tidak berfungsi maksimal karena masih dikerjakan secara paruh waktu. Institusi amil yang modern dan profesional –yang disemai oleh organisasi sosial Islam modern—akhirnya berkembang mulai tahun 90-an dimotori oleh Dompet Dhuafa. Dari sinilah maka wacana profesi amil bergulir yang menuntut amil bekerja secara profesional agar dana filantropi dapat lebih bermanfaat.
Penulis tidak memungkiri jika misalnya terdapat institusi amil zakat yang kinerjanya tidak maksimal tapi menuntut gaji yang tinggi. Sejak masa kolonial kritik terhadap kinerja dan rendahnya transparansi amil (individual) sudah ada. Akan tetapi tidak dapat dinafikan bahwa mayoritas institusi-institusi filantropi Islam khususnya LAZ yang berkiprah saat ini bekerja dengan baik. Bahkan, hampir semua LAZ didirikan atas dasar idealisme yang menguras tenaga, pikiran serta kocek para pegiatnya. Misalnya, donatur-donatur pertama Dompet Dhuafa tak lain adalah para pendiri Dompet Dhuafa itu sendiri. Begitu pula yang terjadi pada lembaga lain seperti Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), Portal Infaq, dan Lembaga Wakaf Zakat Salman yang pada tahun-tahun awal pendiriannya para amil tidak mau mengambil hak mereka karena alasan kepentingan lembaga yang lebih besar.
Dalam lembaga amil, tidak bisa dikatakan bahwa amil menentukan gaji mereka dengan seenaknya. Lembaga amil memiliki mekanisme pengawasan, transparansi dan akuntabilitas yang relatif baik. Organisasi amil diawasi oleh Dewan Pengawas, Dewan Syari’ah, serta oleh pemerintah dan masyarakat. Prosentase 1/8 (salah satu ijtihad yang dipakai oleh sebagian institusi filantropi) adalah suatu kehati-hatian dalam menentukan dana yang bisa digunakan untuk biaya operasional dan upah amil. Tanpa dana operasional ini, pendayagunaan dana filantropi tidak akan maksimal. Banyak pula institusi amil yang mengambil biaya operasional dari uang sedekah, bukan uang zakat, sehingga otomatis prosentase seperdelapan dari dana zakat tidak berlaku.
Badan Amil yang ada di bawah pemerintah (BAZ) memang memiliki cerita yang sedikit berbeda dengan LAZ di atas. Staf BAZ menerima gaji dari pemerintah daerah karena status mereka sebagai pegawai pemda. Dalam perjalanannya ada BAZ yang tetap mengambil hak amil (karena memiliki pegawai honorer), namun ada juga BAZ yang tidak mengambil hak amil, contohnya Bazis DKI Jakarta, karena dibantu dari APBD.
Pendayagunaan Uang Zakat
Pendayagunaan zakat dan dana filantropi lainnya lahir dari kesadaran akan kegagalan fungsi filantropi Islam yang ternyata tidak bisa mengangkat umat Islam dari kemiskinan. Sebagian besar dana zakat dan sedekah digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup jangka pendek yang konsumtif dan hanya sedikit yang digunakan untuk pemberdayaan masyarakat jangka panjang dan produktif. Tanpa pendayagunaan yang terencana dan maksimal maka dana filantropi hanya menjadi sia-sia.
Jika ada sistem pendayagunaan yang kurang baik, bukan berarti ide pendayagunaan itu salah, tapi sistemnya yang harus diperbaiki. Pemanfaatan dana filantropi Islam yang dilakukan oleh beberapa LAZ nasional sudah cukup kreatif dan sebagian sudah mengarah pada pemberdayaan masyarakat dan pengentasan akar masalah kemiskinan seperti program mikro kredit, pelayanan kesehatan gratis, penanganan gizi buruk, peningkatan SDM melalui beasiswa pendidikan dan training, dan advokasi TKI.
Pengawasan bukan Campur Tangan
Penyimpangan amil bisa saja terjadi; amil toh juga manusia. Oleh karenanya yang dibutuhkan adalah pengawasan baik dari internal lembaga itu sendiri (Dewan Pengawas) maupun eksternal dari pemerintah, dan masyarakat khususnya donatur. Lembaga keamilan harus diarahkan untuk transparan dan akuntabel atas kegiatannya. Dengan transparansi dan akuntabilitas yang dimiliki lembaga keamilan, penyimpangan amil dan lembaga keamilan bisa dihindari atau dikurangi.
Lembaga amil seyogyanya dibiarkan memiliki kreativitas sendiri untuk mengelola lembaganya –seperti saat ini -- sejauh itu masih dalam koridor undang-undang. Iklim fastabiqul khairat (berlomba menuju kebaikan) yang sudah ada seharusnya difasilitasi oleh pemerintah misalnya dengan pemberian insentif bagi pembayar zakat. Campur tangan pemerintah yang berlebihan akan membawa efek negatif bagi perkembangan lembaga keamilan dan sebaiknya dihindarkan. Seyogyanya peraturan ‘zakat sebagai pengurang pajak’ --yang belum terlihat implementasinya-- itu yang lebih dahulu dijalankan dengan serius.
Tanpa sistem managemen yang baik dan penggajian yang professional institusi filantropi Islam tidak akan memiliki sumber daya manusia yang bagus yang bisa mengelola dana filantropi Islam secara maksimal. Pendayagunaan zakat merupakan keharusan; karena amanah untuk berpihak kepada fakir miskin bukan hanya sekedar mendistribusikan dana sehingga habis tapi mendayagunakannya untuk menghilangkan akar kemiskinan.
-------------
* Peneliti pada Center for the Study of Religion and Culture, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Cycling on Smoky Melbourne
It was so fun!
Sunday, December 10, 2006
Wednesday, December 06, 2006
Merayakan Hari Relawan Sedunia
Kemarin (5 Des 06) saya dan suami merayakan international volunteer day bersama dengan komunitas Australian Volunteer International (AVI) di Melbourne dengan acara yang berjudul Global Village Festival. Walaupun suasana global village-nya masih kurang terasa, tapi acara cukup meriah dengan musik/tari dari Afrika dan Timor, dan beragam komunitas yang hadir. Dimitri, CEO AVI, bercerita bahwa AVI tahun lalu sudah mengirimkan 750an relawan ke 46 negara. Suatu prestasi yang harus diapresiasi.
Awalnya saya kira, menjadi relawan (volunteering) tidak terlalu populer di Australia, dibandingkan dengan bersedekah uang. Apalagi di Australia begitu banyak lembaga filantropi (kedermawanan sosial) dari yang sekup lokal, nasional, sampai internasional. Tapi rupanya saya salah. Volunteering bagi masyarakat Australia ternyata cukup populer dan membudaya di masyarakat. Bentuk kesukarelawanan pun beragam, mulai dari kerja gotong royong, mengajar tanpa bayaran, sampai bekerja di organisasi non profit dalam dan luar negeri. AVI fokus pada yang terakhir, yaitu mengirim relawan untuk bekerja di lembaga-lembaga khususnya di negara-negara berkembang. Volunteering AVI lebih banyak diarahkan untuk sharing pengetahuan, teknologi dan keterampilan yang relawan miliki. relawan dengan harapan relawan akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kultur dan budaya tertentu.
Volunteering di sini saya rasakan sebagai benar-benar suatu pilihan. Tidak perduli apakah kerja sukarela itu hanya sekedar kerja gotong royong di sekolah. Tidak ada paksaan sosial dan tidak ada stigma bahwa mereka yang ikut kerja sukarela adalah lebih baik dari yang tidak ikut. Namun tentu saja, selalu ada apresiasi bagi mereka yang mau menjadi sukarelawan dari yang sekedar kerja gotong royong tadi terlebih lagi bagi mereka yang mau mengabdi untuk bekerja sebagai relawan bertahun-tahun. Apalagi jika mau jadi relawan di negara-negara berkembang. Apresiasi ini bukan hanya dari komunitas, tapi juga dari pemerintah Australia diantaranya dengan memberikan insentif, tax deduction, dan menyediakan fasilitas dan prasarana untuk meningkatkan kegiatan kesukarelawanan.
Para relawan memiliki banyak motivasi untuk kerja sosial, dari yang sekedar mencari pengalaman, menambah pengetahuan, sampai kepada kesadaran akan tanggung jawab sosial. Para relawan AVI yang saya temui sebagian adalah profesional yang dengan sadar ingin melakukan kerja relawan. Beberapa mantan relawan merasa bahwa kerja sukarela yang mereka lakukan itu benar-benar memberi manfaat yang besar, tidak hanya dalam hal pengetahuan dan pengalaman, tapi juga rupanya karir mereka. Peningkatan karir? Saya kira hal ini bisa saja karena networking yang bagus dari kiprah selama beberapa tahun di luar negeri. Dan saya pun menyaksikan beberapa mantan relawan AVI yang berkiprah di Indonesia kemudian memiliki karir yang bagus.
Apa di Indonesia juga begitu? Memang konteks menjadi relawan di Indoneisa ada sedikit berbeda dengan relawan di Australia. Ada sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah bahwa kedermawanan sosial termasuk kesukarelawanan sudah menjadi kultur di Indonesia. Karenanya, --ini sisi negatifnya-- kerja volunter seperti gotong royong, mengajar tanpa bayaran, membantu tenaga, pikiran untuk organisasi bahkan menyumbangkan uang untuk kegiatan organisasi, sepertinya juga dianggap sebagai hal biasa. Karena itu apresiasi masyarakat kurang dan apresiasi pemerintah hampir tidak ada. Padahal peran para relawan ini luar biasa yang baru terlihat ketika penanganan bencana seperti Tsunami di Aceh 2004 dan Gempa di Yogya dan Jateng 2006. Mereka seperti pahlawan tanpa tanda jasa...
Khususnya untuk teman-teman para relawan, serta aktivis dan pemerhati filantropi,
Selamat Hari Relawan Sedunia!
Amelia
Friday, December 01, 2006
Poligami...
Saya menyayangkan pilihan AA Gym untuk berpoligami. Secara pribadi saya kecewa karena selama ini saya respek dan kagum dengan visi dan kepribadiannya. Memang berpoligami itu urusan pribadi AA Gym yang siapapun tak berhak campur tangan. Tapi ia adalah seorang tokoh publik yang urusan pribadinya menjadi panutan orang banyak. Mengapa AA gymn mengindahkan tafsiran-tafsiran baru mengenai ayat poligami yang sebenarnya bukan membolehkan tapi melarang poligami? Apa AA Gym lupa bahwa begitu banyak perkawinan poligami yang memberikan dampak sosial negatif dibandingkan dampak positif?
Ayat poligami (yang dibaca: fankihu ma toba lakum minan nisa'i matsna wa tsulatsa wa ruba'a...), memang bisa menuai banyak penafsiran. Kalau pakai metode penafsiran tahlili yang kronologikal, poligami itu dibolehkan. Bahkan jumlah istri yang diperbolehkan pun bisa beragam tergantung mengartikan "wa" yang berarti "dan" dalam ayat diatas. Jadi jika 'wa' diartikan pilihan, maka maknanya boleh beristri dua, tiga atau empat (seperti yang selama ini banyak dipraktekkan). Jika 'wa' diartikan sebagai tambahan, maka boleh menikah sebanyak 2+3+4 = 9 istri. Jika 'wa' atau 'dan' diartikan perkalian, maka boleh memiliki istri sebanyak 2x3x4 = 24! Nah lho. Namun jika ayat tersebut ditafsirkan dengan metode penafsiran maudhu'i yang contextual, maka poligami itu sebenarnya dilarang! Apalagi melihat asbabun nuzul ayat itu yang sebenarnya mengecam praktek mengambil harta anak yatim yang intinya adalah menjunjung keadilan. Ini terjemahan surat An-Nisa ayat 3, yang saya sebut sebagai ayat poligami diatas:
"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."Memang dalam ayat ini sepertinya dibolehkan menikah poligami, namun harus dilihat konteksnya. Konteks pertama adalah sikap adil terhadap perempuan (ayat 1 dan 2 surat An-Nisa) yang waktu itu sering menjadi korban penyerobotan harta dari walinya sendiri (masih sering terjadi di Timur Tengah). Jadi pembolehan menikah poligami itu bernada ironi. Kedua, pembolehan poligami menjadi hanya empat istri adalah sebuah kebijakan radikal yang membatasi tradisi poligami tanpa batas yang ada ketika ayat itu diturunkan. Jadi lagi-lagi ayat itu diturunkan dalam konteks memberi keadilan kepada perempuan. Ketiga, konteks pembolehan poligami pada masa Nabi adalah untuk menghilangkan problem sosial dan merupakan tanggung jawab sosial terhadap perempuan dan anak-anak yang terlantar akibat perang Uhud (625 M). Karena itu beberapa penafsir modern yang menggunakan metode maudhu'i mengatakan bahwa poligami itu tidak diperbolehkan. Apalagi ayat 128 surat An-Nisa menyebutkan:
"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."Tentu saja kembali kepada individu mau memilih tafsiran yang mana. Tapi terlalu naif jika problem sosial janda dan anak-anaknya saat ini diselesaikan dengan cara perkawinan poligami. Banyak jalan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan problem sosial akibat ketiadaan suami tanpa harus dengan poligami misalnya dengan pemberdayaan masyarakat, penguatan law and order, penguatan lembaga filantropi. Dengan program jangka pendek, janda dan anaknya bisa ditanggung oleh lembaga filantropi (seperti Dompet Peduli Ummatnya AA Gym) yang memberikan pelatihan kepada ibu dan memberikan beasiswa pendidikan untuk anak yatim.
Kebalikannya, saat ini banyak masalah sosial yang timbul akibat perkawinan poligami, khususnya di daerah pedesaan dan di lingkungan yang ekonominya rendah. Karena poligami dianggap dapat menyelamatkan kehidupan ekonomi. Tapi sebagian besar poligami tidak bisa meningkatkan kesejahteraan janda dan pendidikan anak-anaknya. Anak-anak tetap menjadi korban. Tentu saja, perkawinan poligami dikalangan selebriti dan kalangan berada tidak menimbulkan masalah kesejahteraan, seperti yang terlihat dari perkawinan poligaminya Hamzah Haz, AM Fatwa, dan "Wong Solo." Tapi entah bagaimana peran bapak --bukan peran suami-- dapat difungsikan dengan baik bagi mereka yang memiliki anak banyak dari hasil perkawinan poligami ini.
Saya ber-husnu dzan, mungkin AA Gym ingin memberikan contoh poligami yang baik kepada masyarakat. Tapi saya khawatir yang akan terlihat adalah contoh "dianjurkannya poligami" bukan contoh "bagaimana perkawinan poligami yang baik."
Tentu saja saya maklum, toh AA Gym juga manusia. Hanya menyayangkan, tokoh da'i yang pro pada keadilan dan multikulturalisme dan memiliki visi sosial tinggi memilih untuk melakukan perkawinan poligami.
Amelia Fauzia
Tuesday, November 28, 2006
"Good Morning, Amelia..."
Begitu sapaan murid-murid grade 1/2 Moreland Primary School di tiap Rabu pagi ketika saya ikut masuk kelas. Ya, mereka memanggil guru mereka dengan nama depan, bahkan sebagian nama kecil. Saya, yang hanya menjadi volunteer untuk membantu guru, juga diperlakukan sama. Saya sangat menikmati dipanggil tanpa gelar/sebutan apa pun oleh anak-anak ini.
Panggilan non formal ini bukan sekedar formalitas belaka, tapi terlihat juga bagaimana informalnya mereka berinteraksi dengan guru. Kedekatan, kepercayaan, dan keterbukaan justru mengembangkan kreativitas murid. Pelajaran belum dimulai saja, sudah banyak murid yang mengangkat tangan ingin bertanya atau menceritakan sesuatu. Semua direspon positif oleh guru, walaupun hanya sekedar cerita tentang main ke rumah teman.
Di sekolah, unsur-unsur formalitas dicoba dikurangi. Seragam perlu, tapi yang penting anak merasa nyaman dan tidak terganggu. Datang terlambat tidak dihukum berat, tapi tetap dicatat dan diperingati. Upacara tetap ada, tapi sangat santai, interaktif, dan lebih menjadi ajang informasi dan apresiasi prestasi. Sampai urusan rangking kelas pun tidak ada pun karena mereka sistem penilainnya juga bukan kuantitas 1-9. Walaupun terkesan informal, bukan berarti tidak ada kedisiplinan dan ketegasan. Pada titik tertentu guru sangat tegas. Selalu ada hukuman buat anak nakal yang melanggar disiplin, disamping hadiah-hadiah dan pujian untuk anak-anak yang rajin, kreatif, dan pandai.
Kembali ke panggilan terhadap guru dan staf sekolah yang informal. Saya kira ini menjadi salah satu pendorong keberanian murid-murid bicara, berpendapat, dan berargumen. Sesuatu yang tidak ada pada budaya masyarakat indonesia.
Kadang saya bertanya-tanya, bagaimana ya bisa memunculkan budaya kritis dan berani bertanya. Saya ingat waktu di sekolah dulu, jangankan kritis, lha wong guru udah nyuruh kita bertanya aja semua pada diam. Diam karena takut salah bertanya atau ditanya balik lagi, karena takut malu karena pertanyaannya jelek, karena takut menyinggung guru, dan diam karena benar-benar tidak tahu apa yang bisa ditanyakan. Semua materi pelajaran masuk otak seperti makanan yang ditelan tanpa dikunyah. Guru menjadi momok yang sangat menakutkan. Guru dalam banyak hal selalu benar, selalu harus lebih pintar, dan lebih bermoral. Karenanya mereka senantiasa harus dihormati dan dipanggil dengan bapak atau ibu.
Kalau dengan budaya feodal dan materialistis, bagaimana dan apa yang anak-anak kita pelajari dengan baik ya? Mudah-mudahan bukan budaya feodalisme dan materialisme lagi?
Monday, November 27, 2006
Australian or Not Australian
Kami sekeluarga menonton final Australian Idol tadi malam, bukan di sydney Opera House tapi di depan layar TV di ruang tamu... :) Sejak 10 besar saya dan suami sudah menjagokan Jessica Mauboy, sedangkan Elka dan Farhan punya jago sendiri yang tampangnya lebih keren dan macho. Dalam acara final tadi malam tinggal dua pilihan, yaitu Jessica dan Damien Leith. Akhirnya kami harus menerima kenyataan bahwa Jessica kalah.
Memang harus diakui kami pro Jessica bukan hanya karena suaranya yang luar biasa dan penampilannya yang sangat meyakinkan, tapi juga karena asal usulnya. Orang tuanya merupakan dari Ambon dan Aborigin. Dan dia masih 17 tahun umurnya. Jauh dibandingkan dengan Damien yang umurnya 34 tahun.
Kedua calon itu memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Terlihat dari siapa yang mendukung kedua calon itu. Jessica didukung oleh komunitas Aborigin dan penduduk Darwin. Bahkan premier Darwin sendiri turun memberikan dukungan dan sangat bangga atas prestasi Jess. Tentu saja, penduduk Darwin memiliki sentimen kedaerahan untuk mendukung Jessica karena Darwin bukanlah daerah yang mainstream diantara daerah dan kota-kota lain di Australia. Diam-diam komunitas Indonesia mendukung Jessica, tapi tidak di highlight sama sekali. Dukungan ini hanya melalui 'world of mouth' saja. Saya pikir mungkin lebih baik begitu, karena jika Jess diasosiasikan dengan Indonesia --yang imagenya cukup negatif di Australia--, bisa jadi malah menurunkan dukungan terhadap Jess.
Di pihak lain, Damien, didukung oleh komunitas Irlandia, dan teman-teman kantornya. Walaupun tarian dan bendera-bendera Irlandia dipasang untuk mendukung Damien, tapi hingar bingar dukungan mereka tidak seheboh penduduk Darwin yang berkumpul untuk mendukung jessica tadi malam di pusat kota Darwin. Maklumlah, respons penduduk rural pasti lebih komunal. Walaupun Damien tinggal di Sydney, masyarakat Sydney yang urban dan sangat 'kota' sebagian mungkin tidak terlalu perduli untuk datang ke opera house. Bisa jadi dukungan mereka cukup dengan mengirim SMS saja. Walaupun begitu, justru ini yang menentukan, idol ini kan perang SMS. Jumlah telepon genggam di Darwin tentu jauh lebih banyak di Sydney.
Voting SMS lebih banyak untuk Damien sehingga Damien lah yang dinyatakan menjadi Australian Idol 2006. Saya kira, Damien mendapat dukungan banyak karena jenis lagu yang dinyanyikannya adalah lagu-lagu melankolis dan lagu religious. Mungkin dia dianggap mewakili kelompok anglo. Tapi rupanya ada juga perspektif lain yang Amir dengar dari perbincangan di radio, bahwa ada sebagian pemilih yang memilih berdasarkan kewarganegaraan. Jessica tentu saja adalah warga negera Australia asli apalagi dari keturunan Aborigin, sedangkan Damien statusnya bukan warganegara. Dia baru dua tahun tinggal di Australia, dan masih berstatus permanen resident.
Begitulah politik idol; dari sentimen agama, etnis, dan bangsa berperan. Fenomena rural-urban dan ekonomi di dalamnya juga bukan tidak berpengaruh.
Saya merasa kecewa Jessica tidak menang karena suara dan kepiawaian Jessica dalam bernyanyi itu luar biasa dan selalu dipuji oleh Juri. Hal ini berbeda dengan Damien yang pernah salah satu juri berkata 'no' dalam seleksi awal, dan seringkali mendapat kritik tajam dari juri.
Walaupun Jess tidak menjadi idol, saya kira ia akan menjadi penyanyi terkenal nantinya. Hehe... yang terakhir ini sebagai pengobat hati, karena Jess sudah mengambil hati saya dan keluarga...
Saturday, November 25, 2006
a bad mum with good boys
They are amazing.
Last night I felt guilty. I worked the whole day until midnight and then discovered that my children and husband did not touch the dinner I prepared. I am sure they ate junkfood and fruits there in the fridge.
This morning I made fried rice, bbq chiken and lalap. I was happy to bring these food to elka and farhan's mouths while they were playing xbox, though I was not so happy with this 'preservation' of lazy tradition.
After breakfast I continued working with my notebook until I noticed that elka and farhan were packing up their toys, facuum cleaning, cleaning their bedroom, washing dishes, and mopping kicthen floor! My godness!
From my room I can hear they are writing because I heard elkana and Farhan asked my husband manytimes how to write few words!
Oh, what a good boys!
This is the best saturday I have, without 'marah-marah', without asking 'please'.
Uuuups, Elkana just came and give me a peace of paper which he called 'menu' and asked me to order! What a surprise!
Many times I felt I was a bad mum and wife. I did not take care much of my children and my husband. Of course I did many things, from helping them reading, accompanying them praying, playing connect four and other toys, cooking, bring and get them from school, bring them to swimming pool, baking cake. ect... Many times I was in an intersection whetwer I should coninue writing or should stop to prepare lunch boxes etc and being them to school. Whether I should packing up house or just dont care and continue reading. Whether I should go shopping or buy fast food to save my time...
I might be a bad mum, but I feel today I was succesful to have a very good boys!
I have to finish this... coz Elkana is coming with my ordered food!: toast with strawberry jam and butter; cold bubur kacang hijau with milk, and a bottled water... :)
Elka, Farhan, Amir, I love you guys...
Friday, November 24, 2006
On School Day
A Story by Farhan
On school day I played a cricket with my friends.
Then I saw an old lady holding an umbrella.
Then the bell rang. Then I done a lot of works.
Then the old lady go to the city.
Then the old lady ran away.
And she said "aaaauuuch...."
And then she went home.
Then me and Elkana went to Aftercare.
Then that was the end.
My Holiday
I am going to sydney for a holiday.
I am going next year on sunday.
I was excited about going to sydney.
I am going to sydney opera house.
I am going to have new friends and Sam is comeing to sydney.
I hope fi i can see Jessica* there. but maybe i can see Jessica or not.
by Elkana
* Jessica is the candidate of the Australian Idol.
Friday, October 06, 2006
Bebas hutang....!!! horeee...
Senangya hatiku membaca berita di media nasional, bahwa Indonesia hari ini melunasi hutangnya ke IMF! Sepertinya tak percaya. Ah masa iya sih. Coba lihat beritanya di sini. Tapi kok gak jadi berita utama ya? (hm politik media nih...-- good news is not news; bad news is good news?).
Perasaan dulu wacananya kok sulit sekali bebas hutang, eh ndilalah ibu menteri keuangan ini tiba-tiba membuat kejutan melalui BI. Mungkin gara-gara doi marah akibat disuruh mengembalikan hibah tempo hari. Memang aneh. Lha wong bantuan hibah kok suruh dikembalikan semua gara-gara ada indikasi korupsi, padahal uangnya sudah dipake. Sebenarnya kalau kita berhutang, yang senang lembaga yang memberi hutang. Selalu untung secara ekonomi dan selalu benar secara politik.
Memang hutang gak seberapa, tapi imbasnya lebih parah: membuka peluang korupsi, merendahkan martabat bangsa, memanjakan dan memperkaya pejabat, melemahkan semangat bekerja, dan membuat tidur tak nyenyak.
Akhirnya, senangnya merdeka dari hutang. Iya, rupanya di Detik banyak berita itu. Jadi lega rasanya. Semoga Indonesia tidak terjebak berhutang lagi.
Merdeka!
Wednesday, September 20, 2006
A sweet letter from Elkana
Dear Elkana and Farhan,
I just want to let you know that
the letter below is the best findings of my whole research
in Indonesia this year.
love,
mum


Jakarta, 20 September 2006
(Thanks Sajad for scanning the letter)
Wednesday, August 23, 2006
Kemerdekaan Yang Sepi
Hari ini hampir di tiap RT dan kelurahan
masyarakat merayakan kemerdekaan Indonesia
sebagai sebuah negara kesatuan yang berdaulat
Hingar bingar
warna warni
gegap gempita
manusia berbaris, berkerumun, bergerombol,
berdecak, bernyanyi, bertepuk
sorak sorai membahana
pesta rakyat
tapi tidak di sini
sunyi, sepi, tenang
seperti hari biasa yang tidak istimewa
tak terlihat pesta, tak terlihat suka cita
semua tenang
santri tetap pergi mengaji
jalan desa berbatu nan terjal tetap sepi
pohon-pohon tak berhias
dalam nuansa nyaman, teduh dan bersahaja
sampai senja datang
malam menjelang
sepi semakin senyap
cahaya temaram mulai terlihat hanya dari beberapa rumah
kegelapan menjadi bagian dari kehidupan
pintu rumah tak terkunci
jendela tetap terbuka
tak ada yang dikhawatirkan
semua merasa bersaudara
semua merasa aman
suara jangkrik semakin keras terdengar
mengakhiri hari yang dianggap sakral
kemerdekaan hadir disini dalam nuansa yang berbeda
kemerdekaan dari aliran listrik
kemerdekaan dari materialisme
tanpa TV, radio, kulkas, apalagi motor dan mobil
kesederhanaan yang mendamaikan
Dirgahayu RI yang ke 61
Kaligintung, Bumiayu
Thursday, August 10, 2006
Elka's stories
Elka called me this morning at 04.30 Jakarta's time from Melbourne. He was so happy. He told me that one of the plants in our flat is flowering. The flower is purple with yellow color inside. He said that the second plant is going to flower too. Elka promised me to write everything about the flower and will show the story to his class teacher, Sue.
Elka told me that he made a redbean float with a watermelon and an eaten umbrella (hm yumm..). He got the recipe from Sue. He would like me to try his redbean later when I back home.
He also said that he always brushes his teeth every morning and night, and he takes care of Farhan too. What a nice stories...
Few days ago, on the phone I promised Elka that I will try to shorten my work in Indonesia and go back as soon as I can. In the morning, he did not ask me to come home faster, but I promised my self to try to work harder so I can go home to be with Elka, Farhan, and Amir. I love you guys...
Jakarta
Thursday, July 27, 2006
I'm gonna miss ya!
It's always the same. It is so hard to traveling alone without my family. I am not talking about two or three days, but two to three months! This time I feel even harder because Elka and Farhan are grow up.
I delayed my departure date four times already. But the time is running out, and no more delay is possible! I have to go tonight.
Two months ago when I talked to Elka and Farhan about my fieldwork plan to Indonesia, they said "well, OK, you can go...". But two weeks ago they said "I want to go to Indonesia with you". This morning Elka said "Oh no..., can you stay one more day with us?". Farhan said sweetly, "can I go with you please?" Farhan even tried a little bit harder to make me stay. He warned me with stories about airplane crash and said that going by airplane is very very dangerous. Finally Farhan said, "OK, you can go, but you have to bring Turkish delights and skipping rope from Indonesia for me" :) Elka said OK and warned me to be very careful with earthquake and tsunami. Finally I went to the airport....
When we separate from our loves ones, we will more appreciate the time when we are together. I miss you guys.....!
Singapore, 27 July 2006
Sunday, July 16, 2006
1st Day to School
Farhan was so happy at his first day at Moreland Primary School, February 2006.
Farhan was still happy although in his third week at school he broke his collarbone.
Saturday, July 15, 2006
Neerav's Birthday
Story by Farhan, written by mum
Neerav and me played outside in his party. The party is new and I played with Neerav and I liked it. The party and I had fun. I ate chips and chicken nuggets at McDonald. We played pass to puzzle and this party is in McDonald. There are seven peoples and I got so fun. And I played with everyone in the birthday. And I liked Neerav's birthday.
School Uniforms: Symbol not Substance
I am very sad with several news particularly regarding schooling. Detik.com investigated and found that in Riau each student has to pay 1,5 million rupiah for new school uniforms. My Godness! That's in Riau and in government schools. Can you imagine how much those will be in Jakarta and other big cities, and in private schools?
What's uniform for? The concept of wearing school uniform is very good indeed so students will feel in the same stage with their fellows coming from different economic class. No glamorous and fancy clothes wore at schools. However, these school uniforms have functioned more than their main goal. Now it is the schools which want to have different kind of uniforms beside the national school uniforms. This happens from kindergardens! The majority of kindergarden has at least three kinds of school uniforms, t-shirts, sports, and batik.
Excuse me, what are those uniforms for? For students to be comfortable? For schools and teachers to be proud of? For social status? Why schools issued regulations that these school uniforms are a must? No school uniforms, no class. How could be? Do they forget that most of Indonesian family live close by the poverty line? Its ridiculuos. We spend a lot of energy to decide, design, tailor, sell, and put regulation of school uniforms only for social status! Oops, I almost forget, its for economic benefit of certain people, off course. So, parents have to work very hard only for social status of the schools and feed several people who tailored and sold the uniforms. Talking about economic benefit, this uniform case is almost the same with the school texbook policy, where printing companies, the authors, and few functionaries, through the system called "proyek" get most benefit. I will call this as an economic exploitation.
Our schooling system is misleading. It stresses symbols out of substance and learning process. We are very busy to deal with uniforms, performances, but forget that the most inportant thing is learning. No surprised several month ago a primary school student committed suicided because his school uniforms were wet in the morning he should wore it. Schools are too harsh on the uniform regulation. Students are educated with materialistic and symbolistic learning. Dilligence (going to school without absence) and neatness (including wearing uniforms) are parts of evaluation. This happens in a higher education too where there are regulations regarding clothes, shoes, hair, and head scraf.
I am afraid we give too much emphasis on symbol, most importantly religious symbols. Wearing hijab, jubah, peci, and other religious symbol will be regarded good people (off course some of them are). And each of us should have a religion and be good person or look like a good person. People concern too much with symbolic religiosity. Therefore some people use religion (religious symbols) for their own policial and economic benefits. These people selling religion for anything, such as members of parliament, and popular leaders. The problem is their 'selling' is salable. Why because we are educated by materialistic symbols not substance, I am afraid...
Friday, July 07, 2006
Retired? Congratulations!
Valedictory is not that everyone loves to do that, I suppose, because retirement has become a frightening image. Yes, a post power syndrome. However, that is not the case of numerous intellectuals such as Issa. He is happy to face his retirement days. In fact, he arranges his farewell oration with the launching of his new book:
LET THE PEOPLE SPEAK
TANZANIA DOWN THE ROAD TO NEO-LIBERALISM
His son will read a poem at this farewell party too. I imagine this would be the great day for him.
Many emails from his colleagues express the happiness that he will retire. One of the emails that I really want to borrow says “I do wish to put on record our appreciation and debt to you for your immense intellectual contributions and for all you have taught us. I am confident that your retirement will be even more fruitful, and we look forward to continuing to benefit from your scholarly and other activities.”
I knew Issa from the project of “Philanthropy for social Justice in Muslim Societies”, funded by the Ford Foundation. I was in debt for his thoughtful, valuable, and wise comments and advice he wrote in the mailing list exchanges between members of the project. It was so difficult to manage a huge project that covers five countries in Africa, Asia, Europe, and Middle East. As a project director, I have to deal with different culture and intellectual background of numerous scholars and activists who I didn’t know before. Tiring debates, criticism were my everyday menu including only to decide the date of our global meetings. The most harsh discussion was about the philosophical and practical aims and theoretical frameworks of the project. I actually felt so small between those doctors, professors and activists, members of the project. One day I got a letter for a professor in India to consider his university to run that project in India. He said in his letter, “Dear Prof. Fauzia.” Oh my God! I haven't even started a Ph.D study yet.
What made me strong were the voices of these wise, excellent, and experienced academics that guided the project through difficult times and respected my existence. Voices? Yes, because the project was run mostly through emails and phones. I was really in debt to several members, Abdu (Abdullahi Ahmed An-Naim), Marwa el-Daly, Lyn Welchman, Suzanne E. Siskel, Emma Playfair, and Christopher Harris, and my colleagues at the Center for Language and Culture. I knew Issa via this global project. Although for several reasons Issa resigned few months after the Bali meeting, the members of the project were still respect him.
The global project was over by the International conference in Istanbul in November 2004. However the networks it had created are long lasting. I thank God that through this project I learned many things and now I have wonderful friends and gurus from many different countries. One of them is Issa. I am very proud of him.
Wednesday, July 05, 2006
Conference Blue...
"When I am feelin' blue, all I have to do is a take a look at you..."
This song could not help me, this time. I feel like I have soo many things to do but I lost in space.
This is not because of my thesis writing as I feel that my adrenalin is still up since my last draft got many question marks from my supervisor. I like it! I think the best supervisor is that someone who criticizes your works and asks difficult questions.
This is not because of my children. In fact they are very well behave especially with my yes and no regulations.
Yes, its because of a conference. Actually this conference is not a big deal to me. Its not in my dreaming country to visit and not too big forum. It has quite general topic, not specifically relevant to my thesis. Sure, I like to attend and present my paper there because few things. First, I like to discuss my thesis with international reputation sociologists and historians, and other scholars of Asian studies there. Second, I believe that this forum has good intellectual atmosphere that will make my brain works hard to answer questions. Third, I want to see my friends. Last, its location and date are well fitted with my field work plan.
What make me blue is not that my abstract fails, but the uncertainty it made. I have been waiting for almost a month only to know whether my abstract succeeds or fails. Two weeks ago the convenor of the forum said that my abstract is shortlisted and I have wait another week. Hgh, its unprofessional. I imagine if I succeed I will say in the forum I am sorry I havent finished my paper.
It looks like this uncertainty cause no problem, but it is not, for sure. I have to wait its announcement so that I could have a certainty how much additional funds will I have for my field research including attendance in this forum. I have to delay my flight schedule. I have to delay to apply for getting travel insurance because it needs info how much funding I get from university. I havent started to write the 5,000 words paper in fact the forum date is three weeks to come. Fuih, this late announcement really made me blue.
Actually, I am not so interested to attend a conference anymore (maybe with exceptions of country I havent been there such as South Africa and Russia :)) Conferences are monotonous and boredom if I dont have friends there. I think I have enough links and networks so what I need now is a critical forum specific on my subject. Beside that I need a forum from which my paper will become a part of a book chapter, and a summer school where I can dig more historical resources important to my thesis or improve my thesis theoretical framework. Haha (laugh), apart from this conference blue I still have some dreams to catch up. Who knows? If we cant get to Jupiter, getting March has already become an amazing milestone.
Sunday, July 02, 2006
Going Back for Good
These months many of our friends are going back to their countries for good. Farhan's best friend, Neerav, a Nepalese boy, is going back to Nepal. Neerav's mum has finished her studies at the University of Melbourne. Farhan was very exited to talk to and play with Neerav at Neerav's birthday party as well as his family farewel party. All the best for Neerav's family. Hopefully we could see you again, sometime, somewhere....
The most sad one is that Elkana and Farhan are losing their very best friends, Anugrah and Safira. Both are very cheerful and nice mates. Now, they are staying in Indonesia for a year until their mum finishes her fieldwork. They will go back to Melbourne again next year! We are waiting for you guys to be our special neighbour.. :)
We have been waching people come and go. Sooner or later, our time will come too that we have to leave Melbourne and go back to our country, Indonesia. Time goes very fast. An Arab's proverb says "al-waqt ka al-sayf", the time is like a saber, if you are not careful use it, you are cut by its blade.
the pizza
by farhan
i put tomatto and i put sausages and
. i put cheese and i put pineapple and
i put the pizza in the oven.
M.r. jack

by Elkana
M.r. jack was buy his new robot. He makes the robot new then he make a car then he say I make lot fo thing. M.r. jack is good because he is a maker he allways makes a thing.
Saturday, July 01, 2006
THE pizza
by Elkana
When i make the pizza i put the tomatto first . Then i put the pineapple. then my mum cut the sausage. i put the cheese then my mum puts the sausage. then me and my mum put the pizza in the oven for 20 minutes. Then my mum open the oven then we eat the pizza.
Thursday, June 22, 2006
Better Than Thou
A quote today: Holier Than Thou
"A distinguished Turkish gentleman said to me recently, 'I have no problem with beards or veils or religious symbols. The most important thing for me is to worship God with my heart and soul.' If we weren't so busy judging others we might have the time and inclination to do just that." (Lubna Hussain, Holier Than Thou. Ms Hussain is a Saudi writer based in Riyadh.)
There is no problem in criticism. But some peoples are judging others to say that they are better from others, overlooking and covering their own foibles. Then few of them usually will velify anything coming from others without having solution. Thanks God they are only few, I hope :)
Amelia
Wednesday, June 21, 2006
Write Blogs and Play XBoxs
Video games are crazy. This industry 'teach' children to understand mostly the very bad of our world: violence and wars. Most of the games are full of violence, some of them from success movies such as starwars.
However, our struggle to avoid xbox -- one kind of video games-- from Elkana and Farhan, failed. Xboxs, play stations, and nintendos are anywhere in our neighbors' houses, in after school care centres, in holiday programs, in school children talks, in TVs, movies, and supermarkets.
Fuih, yes. We have one. But now, I have many good reasons to keep it. Among others are learning about disciplines, learning to read (the instructions), time values, money values, and the most important one is encouraging Elka and Farhan to write. "No eat no play" and "no write/read no play" have become their customs. Writing becomes so enjoying for them as they know the reward they will get: an hour playing xbox. Now they are enjoying to write in blogs too because they see their works on the internet. That's why this blog have few short stories of Elka and Farhan, and Ardhiya (Elka and Farhan's friend), who came to play xbox at home. Yes, the rule "no write no xbox" is for everyone including guests!
Xboxs and blogs make my life easier.
Star Wars: THE FINAL DUEL by Ardhia
In a galaxy far far away, on the paths of the crumbling planet of Sarateena. There stood two men, one by the name of Leam Oak-a Jedi Sentigular- who wishes to be the savior of the entire galaxy but the other... Darth Axlon-a Dark Sith Lord-wishes to conquer the entire galaxy, in other words-wishes to be the conqueror.
The duel had started and both men ready their lightsabers and leaped on to one another. They fought in mid-air for a short while and landed on the ground. Leam threw a boulder at Axlon but it missed, Axlon payed back by throwing two giant boulders but it also missed. Now that they know that throwing boulders is useless they fought again with their lightsabers.
The final moment had come, both men unleashed their most powerful Force Power to decide the end of the duel. Leam or Axlon, saviour or conqueror. To be continued...
Sunday, June 18, 2006
starwars
by Elkana
In the galaxy there is planets armies and building and lots of machines. In republic and cis they have wars but they dot stop wars and they get armies because they make more armies. But they never stop makeing things they make nus and they make so many robots but they nevar be tems. they are not fres and they make leaders and they make weapons and lot of things to make. the republic have 75683 armies and cis have 61129 but the cis will make more that is 50.
Whitty is from farhan
by Farhan
when i go to someone house i got a rabbit and i went home and i playd computer and i had haue a rabbit. but i forgot my rabbit i cant find my rabbit on time. i look and look and look and i find my rabbit. tomorrow will be holiday and i had breakfast with rabbit and i sleep with whitty .
Friday, June 16, 2006
Cats cats and moro cats
by Elkana
One day in the house their is joe and dad and mum and me and cats but the cats are going to the city. their peoples and buildings the cat when to the petshop and he saw lotsof cats. Then the cat open the cage then the cats run outside. then the cats follow the cat he went to home then the cats help the cat to open the door. Then moro cats then moro cats came to help the cats. when the door opens joe saw somany cats. then me and joe give the cats food.
Tuesday, June 13, 2006
Super Mummy
Akhir-akhir ini kami suka menonton acara "Super Nanny" di televisi. Dalam acara ini, seorang nanny yang sangat cerdas diminta bantuannya untuk menolong sebuah keluarga yaitu 'merubah' perilaku anak nakal dan sulit diatur. Super Nanny tinggal bersama keluarga tersebut untuk menganalisa apa yang salah. Kemudian ia membuat aturan dimana orang tua dan anak harus melakukan hal-hal yang dimintanya dalam rangka perbaikan. Dalam satu-dua minggu keluarga bisa berubah menjadi harmonis dengan anak-anak yang baik.
Tayangan super nanny yang lalu, mengenai sebuah keluarga single parent, yaitu seorang ibu dengan tiga anak perempuan yang cantik berumur kira-kira enam, empat dan tiga tahun. Rumah keluarga ini bersebelahan dengan rumah kakek-neneknya yang senantiasa membantu si ibu muda ini menjaga anak-anaknya. Diperlihatkan banyak cuplikan perilaku ketiga anak tersebut: dari yang sekedar membuat ibunya sibuk, seperti menumpahkan makanan dengan sengaja dan melempar kursi termasuk ke tamu; membuat marah, seperti meludah ke ibu dan kakeknya; membuat malu, seperti berteriak-teriak dengan kata-kata kotor; sampai yang membahayakan, seperti lari ke jalan besar yang ramai. Tidak lupa juga diperlihatkan cuplikan bagaimana si ibu berteriak-teriak marah, mengucapkan kata-kata tidak pantas, berperilaku kasar ke anak-anaknya, dan selalu meminta bantuan sang kakek dan nenek.
Satu pesan yang jelas terlihat dari apa yang dilakukan super nanny adalah bahwa perilaku anak itu sebenarnya berasal dari orang tua mereka sendiri. Anak meniru apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari, dan bagaimana mereka diperlakukan. Padahal sebenarnya anak-anak itu mencari perhatian ibunya yang mereka anggap tidak sayang kepada mereka.
Karenanya, treatment super nanny biasanya adalah, pertama, membuat komunikasi yang baik antar orang tua dan anak. Saling mendengarkan dan memberi feedback, dan orang tua harus selalu menjelaskan alasan atas tindakan yang dilakukannya. Lebih banyak meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama. Kedua membuat aturan yang jelas dengan reward and punishment-nya. Ketiga, merubah sikap orang tua itu sendiri yang menimbulkan kesan buruk dan ditiru oleh anaknya.
Waktu nonton, saya dan Amir sering tanya ke Elka dan Farhan pendapat mereka. Syukurnya mereka selalu bilang itu perilaku anak dan ibu yang tidak baik. Kadang kami saling mengingatkan siapa yang bandel akan ditaro di naughty corner seperti yang dilakukan super nanny. Jadi sekarang kalau mengingatkan Elka dan Farhan saya sering menggunakan gaya super nanny: memberi peringatan pertama dan menjelaskan kenapa misalnya tidak boleh teasing, memberi peringatan kedua dengan ancaman tidak akan dibelikan mainan. Dan, tidak perlu ancaman ketiga, super mummy berhasil...
Memang, super nanny bukan inspirasi pertama kami. Sebagian besar inspirasi memperlakukan Elka dan Farhan berasal dari mengamati tingkah laku para pendidik di sekolah dasar, TK dan childcare, berikut program mereka. Sebelum tahu acara super nanny, dinding ruang keluarga kami juga sudah dipenuhi dengan (1) hasil karya Elka dan Farhan, (2) beberapa perjanjian yang menyangkut game, beli mainan, dan hadiah coin untuk ditabung, dan (3) indikator stars (apresiasi atas good works) yang dilakukan oleh Elka, Farhan, mum and dad. Tentu saja, Elka dan Farhan-lah yang bintangnya paling banyak... :)
Asik juga nonton super nanny ini. Selain dapat hiburan, kami juga dapat banyak pelajaran yang sering kali mengingatkan perilaku masing-masing.
Wednesday, June 07, 2006
Ayo Bangkit Jogja!
by Amelia
Sedih? sudah pasti.
Bagaimana tidak sedih kalau ada anggota keluarga mereka yang meninggal atau luka parah akibat tertimpa bangunan ketika gempa terjadi (Sabtu, 27 Mei 2006)? Bagaimana tidak sedih kalau rumah mereka rata dengan tanah dan mereka harus tinggal di tenda-tenda darurat (yang benar-benar darurat!). Bagaimana tidak nelangsa kalau untuk mencari makanan dan air minum saja sulitnya setengah mati? Bagaimana tidak nelangsa kalau saudara dan famili mereka yang sakit tidak mendapat penanganan serius karena keterbatasan obat-obatan dan fasilitas? Mereka menjadi pengungsi di kampung sendiri!
Memang ada yang saking kepepetnya sampai mencegat mobil-mobil bantuan dan meminta-minta dipinggir jalan, sampai ada yang bunuh diri karena tidak kuat menanggung derita. Tapi sebagian besar para korban gempa ini punya mental yang baja karena sadar bahwa kehidupan harus terus berjalan.
Mental baja itu terlihat pada anak-anak SD di Widoro Chandran, kecamatan Sewon, Bantul, seperti yang terlihat difoto hasil jepretan wartawan The Jakarta Post. (Detail berita lihat: http://www.thejakartapost.com/detailheadlines.asp?fileid=20060606.@02&irec=2)
Mereka tetap berusaha untuk menempuh ujian akhir di halaman sekolah mereka yang tinggal puing-puing. Mereka berusaha melupakan trauma dan kesedihan.
Mereka benar. For their own future, life must go on!
Bangkit Jogja!




