Last August, we went for a holiday in the Mount Beauty. It was awesome holiday for us and for om Ali who joined us. Its like the name, Mount Beauty is very beautiful. It is located in Tawonga South, Alpine area, about 4,5 driving to Northeast of Melbourne. We visited and spent the night at my professor's house, which is about about half an hour to the Falls Creek, one of the best winter sport resort.
We were so grateful with the generosity, courtesy, and warm welcome of the professor and his wife. We really felt at home. They brought us to a georgeous park with its serene and rainbow color lake. We did very 'merepotkan' them who provided us with not only a beautiful dinner, but also beautiful breakfast and lunch! We enjoyed the food and we learned much about table manner...
We enjoyed the visit to Falls Creek snow resort; enjoyed the "visit" of groups of kanggaroos which always having "morning and afternoon tea" at a small pond in the garden of the house; enjoyed rainbow colored birds which always having breakfast and luch in the porch of the house; and enjoyed sitting behind the fireplace.
One thing that I would never found in any other holiday is that I had very fruitful discussion about my thesis chapter. I got additional data from the professor's library too!
Farhan named the Mount Beauty area as "the land of Mountains". When we left the house for Melbourne, Elkana waved our very nice host until far away and happily said "see you next year!" Ups...!
Thousand thanks Margareth and Merle...
Tuesday, September 25, 2007
Mount Beauty Holiday
Sunday, June 03, 2007
Foto sekeluarga di Puffing Billy
Ceritanya kami pergi ke Puffing Billy bulan Maret yang lalu. Puffing Billy adalah nama wisata kereta tua di pegunungan (sebenarnya gak tinggi-tinggi amat sih) Dandenong, masih di Victoria. Jangan salah, walaupun sudah berumur, Puffing Billy tidak karatan, bahkan kalau kata orang Betawi kinclong.
Nah layaknya turis kita berfoto-ria. Saya dan Amir bergantian mengambil foto. Kali ini Elka, Farhan dan saya berdiri didepan lokomotif Puffing Billy dan Amir sedang mengira-ngira jarak untuk mengambil foto kami. Tiba-tiba seorang nenek berkulit putih dan rambut pirang mendekat. Sambil tersenyum si nenek itu bilang: "Do you want me to take your family picture?" Wow sebuah surprise ada sukarelawan yang menawarkan diri. Surprise karena kami selama ini berfikir untuk tidak minta tolong khususnya orang bule karena kelihatannya mereka lebih suka sendiri, tidak perduli, dan tidak mau diganggu privasinya.
Pikiran itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan saya perhatikan justru orang-orang bule itu sangat baik berkomunikasi (walau tidak mesti ramah); sering kali bilang sorry, exuse me, dan pardon me; dan memanusiakan anak kecil. Memang tidak disemua tempat seperti ini sama. (Saya kira baik di halte busway jakarta maupun di tram stop Melbourne orang sama saja sibuknya; tapi kalau di perkampungan saya kira orang Melbourne sama orang Jawa sama ramahnya...). Di stasiun Puffing Billy, saya surprise mendengar pengumuman untuk penumpang dimulai dengan "Dear ladies and gentlemen, girls and boys..." Anak-anak begitu dihargai. Sepanjang perjalanan saya lihat hampir semua orang yang menyaksikan puffing billy melintas akan melambaikan tangan, entah itu anak-anak, orang tua, bahkan sampai supir truk yang bertampang sangar. Kami yang berada di atas Puffing Billy tentunya sumringah dan bersemangat pula melambaikan tangan tak henti-hentinya. Kultur-kultur ini merupakan hal kecil, tapi ini adalah generosity yang perlu dihargai.
Sunday, April 22, 2007
Respecting Pinguins
During the Easter holiday, we went to Philip island. It takes around two hours from the city of Melbourne to Philip island. There is a 2 km brigde which connect Melbourne to philip island. The island is small and located southern part of Victoria. Philip island beaches are not so special for swimmers and surfers. Big waves rom the ocean have been impeded by Tasmania, left small waves to hit these beaches. At least it is very safe for children to play in the beaches.
Before we crossed the bridge to the Philip island, we went to a farm that breeds typical Australian animals: crocodiles, caccatoos, wombats, koalas, emus, sheeps, and, of course, kangaroos.
In the farm, kangaroos are the most favourite animals. Children loved to feed kangaroos. And they are friendly too. Other animals are quite friendly, but we could not stand with them. Emus and sheeps are smell bad; koalas sleep allmost 22 hours in a day on ecalypus trees. And no one wanted to be friend with crocodiles, for sure.
Farhan and giant koala. .. Feeding kanggurus.
We continued our journey to philip island. I almost got boring with the island until we saw pinguins. Yes! Philip island is famous with its pinguins. When it is dark, thousands of pinguins swim from the sea to philip island to stay a night. This tradition started from around thousand years ago and now becomes a one of favourite tourist attractions. For sure, you do not need to be freezing to see these Philip island's pinguins.
However, in this Philip island visitors are required to respect pinguins because this island is their home. As good visitors, we are required to be as quite as possible so these pinguins do not afraid. Visitors are not allowed to take pictures, not even to speak loadly. I did not imagine before, that around a thousand of visitors sit down on the sand, waiting quitely in the cold, sometimes in the rain, for about an hour, only to watch these small species of pinguins swim to the island in the dark.
Me and the Kangaroos
Story by Farhan, written by Mum
I went to the farm in Philip Island. I saw kangaroos. After that I got some grass to give the kangaroos. After I fed some more kangaroos. I got some grass. I came back to the kangaroo and I fed him. I saw a little kangaroo in the big kangaroo's pauch. I fed one more kangaroo and we went some where else. We went to the pinguins that time. We waited for the pinguins and it was cold.
Tuesday, February 06, 2007
Sovereign Hil: Mengalami Sejarah...
Tanggal 27 January, sehari setelah Australia Day, kami jalan-jalan ke Sovereign Hill, di Ballarat, Melbourne. Ini benar-benar wisata sejarah di mana pengunjung diajak untuk mengalami sejarah itu sediri. Diantaranya
memakan makanan seperti tahun 1850 di Ballarat (permennya kami makan sekeluarga baru habis dalam satu hari...),
bersekolah dan belajar menulis huruf latin dengan pena (sebenarnya banyak sekolah negeri dan madrasah di Indonesia dalam kondisi seperti ini atau jauh lebih sederhana dari sekolah tahun 1850 ini),
dijaga oleh prajurit bergenderang dengan pakaian yang fancy,
memakai pakaian ala cowboy dan cowgirl (sampai pakaian dalam dan aksesoris seperti jam dan anting, sesuai dengan tahun 1850 itu),
mendulang emas (pasir-pasir dan debu emas masih banyak di temukan di aliran sungan kecil itu lho...),
dan pesta gelembung air (bubles)!
Kota ini dibangun kembali untuk tujuan wisata. Dan setiap harinya dibantu oleh sekitar 250 orang volunteer yang berperan sebagai penduduk sovereign hill tempo doeloe: ada yang mendulang emas, membuat permen, membuat panci dan piring, naik kereta kuda, dst. Tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, kelihatannya semua aspek bisa dijadikan uang. Mereka juga tidak lupa untuk memberi entartainment untuk anak-anak diantaranya ya gelembung air itu. Dan yang paling berkesan adalah 'gold mine tour' di mana kami masuk ke bawah tanah untuk melihat penggalian emas tempo dulu. Jaman dulu perempuan gak boleh masuk, tabu dan bisa membawa sial katanya. Ih orang Melbourne dulu percaya tahayul juga... Tapi memang dunia penambang itu sangat keras dengan resiko kehilangan nyawa yang sangat tinggi. Dulu anak-anak dipakai sebagai buruh kasar yang seharinya mendapat upah setengah upah orang dewasa.
Duh padahal di Indonesia kita punya banyak potensi wisata sejarah. Seandainya bisa dikelola seperti ini, pasti luar biasa.
Saturday, January 13, 2007
sydney new years day
Ternyata, rumput tetangga tidak lebih indah dari rumput sendiri...
Nah, kaitannya dengan liburan kami sekeluarga di Sydney pada akhir tahun 2006 sampai tahun baru yang lalu. Memang sih kami ubek-ubek Sydney cuma 4 hari. Waktu yang tidak lama untuk bisa memberikan judgement yang obyektif. Tapi dari hasil 'observasi' singkat ini saya berpendapat bahwa dalam hal turisme kota Melbourne itu lebih baik dari kota Sydney. Penilaian ini bukan membandingkan antara St. Kilda dengan Bondi Beach misalnya, atau membandingkan Circular Quay dengan Federation Square. Tentu saja, masing-masing kota punya keunikan sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan. Tapi menurut saya kota Melbourne lebih baik dari kota Sydney dalam hal:
1. Keramahan-tamahan komunitasnya khususnya orang yang bertugas di publik service. Jarang sekali kami temui misalnya petugas stasiun dan supir bus yang baik dan mau sabar menghadapi turis yang tidak tahu banyak mengenai publik transport. Di Melbourne, di tempat-tempat yang ramai baik di jalan, stasiun kereta dan pemberhentian tram, ada petugas yang memberi informasi mengenai publik transport dan ada pula petugas yang bisa memberi informasi mengenai tempat-tempat wisata di Melbourne. Para petugas ini sangat helpful. Kalau melihat seseorang yang bingung atau lama ngelihatin peta, dia pasti segera datang dan bertanya "May I help you?"
2. Mungkin ini ada hubungannya dengan keramahan di atas, tapi bedanya ini adalah budaya di jalan. Jika di Melbourne, pejalan kaki itu dihargai sekali, di kota Sydney . Memang di Sydney aturannya juga begitu, tapi bayangkan siapa yang tidak senewen kalau kita lagi nyebrang jalan tapi didengarkan suara gas bus dan mobil yang meraung-raung tidak sabar mau cepat jalan dan 'meminta' kita supaya cepat nyebrang. Belum sampai kaki di sebrang jalan, bus sudah jalan di belakang kita. Mengenai bus ini, saya dan Amir sepakat kalau gaya para supir bus ini tak jauh beda dengan supir metro mini di Jakarta! Ini memang bus regular. Tapi bus regular di Melbourne jauh dari kultur kebut-kebutan dan tidak sabar seperti di Sydney.
3. Tidak ada yang gratis! Libur tahun baru, di Sydney cuma ada diskon publik transport. Di Melbourne, beberapa hari libur seperti Natal dan Tahun Baru, public trasport itu free! Setiap hari ada bus turis gratis untuk keliling kota Melbourne. Ada juga tram yang disebut city circle yang kerjanya keliling kota, juga gratis. Selain Melbourne itu lebih generous, masyarakat juga di-encourage supaya naik public transport. Dan tentu saja ada diskonnya. Misalnya ada tiket sunday saver yang bisa dipakai untuk bepergian keliling kota Melbourne (unlimited travel) baik itu pake tram, kereta api, maupun bus pada hari minggu dengan hanya membayar $2.50.
4. Kebersihan kota. Masih di airport Sydney, ketika kami keluar untuk antri taxi, kami sudah disuguhi dengan bau kencing yang menyengat. Di luar airport pun pemandangannya tidak menyegarkan. Yang terlihat cuma dinding-dinding bangunan parkir yang suram tanpa landcape taman yang indah. Perjalanan dari airport ke suburb dan city disuguhi dengan pemandangan yang suram. Beda dengan airport Melbourne. Lingkungan airport cukup menyegarkan dan perjalanan dari airport ke city juga disuguhi pemandangan yang menyenangkan.
Jadi, saya baru mengerti, kenapa kawan saya Eka Sri Mulyani yang tinggal di Sydney begitu antusias dan terkagum-kagum ketika datang ke Melbourne. Katanya "this is the real Australia..." hehe. Soalnya dia bilang kota Sydney itu apa bedanya dengan kota Jakarta yang penuh dengan bangunan-bangunan tinggi. Sedangkan di Melbourne bangunan bergaya victorian itu bisa banyak dilihat dan masih terawat baik.
Dari hasil jalan-jalan ke Sydney, saya pikir kalo Melbourne ini kota turis yang luar biasa. Lebih hijau, ramah, dan generous! Tentu saja ini dari kacamata turis.
Saya mau menikmati Melbourne ah musim panas ini...
Sunday, December 10, 2006
Friday, November 24, 2006
My Holiday
I am going to sydney for a holiday.
I am going next year on sunday.
I was excited about going to sydney.
I am going to sydney opera house.
I am going to have new friends and Sam is comeing to sydney.
I hope fi i can see Jessica* there. but maybe i can see Jessica or not.
by Elkana
* Jessica is the candidate of the Australian Idol.