Monday, February 05, 2007

Antara Pertemanan dan Kegiatan Anak-anak

Weekend kemarin saya agak kerepotan mengatur Elka dan Farhan karena teman-teman mereka. Bukan karena teman-temannya ini berumur 5-7 tahun lebih tua dari Elka (7) dan Farhan (6), tapi karena mereka keranjingan game (xbox, PS, computer games), dan cenderung tidak mau berbagi dalam permainan. Elka dan Farhan senang sekali dengan kehadiran teman-temannya ini sepanjang hari di rumah, tapi tidak berdaya jika mereka merasa dirugikan. Selain itu Elka-Farhan cenderung mendengar teman-temannya daripada mengikuti kegiatan keluarga. Kami jadi serba salah mengatur anak-anak dan kehilangan privasi di rumah sendiri.

Masalah privasi sudah bisa tertangani dengan memberikan aturan tegas tidak boleh masuk kamar. Anak-anak juga mengerti walaupun keberisikan mereka di ruang tamu tetap terdengar sampai kamar. Sebelumnya mereka tetap bermain di kamar walaupun saya atau Amir sedang bekerja atau istirahat di kamar yang sama. Ini memang karena kami terlalu terbuka. Jadi kebijakan mengenai privasi sudah ketok palu. Kemarin pun anak-anak beserta teman-temannya mau ketika saya minta untuk main di halaman atau di taman. Walaupun cuma 1 jam, lumayan lah bisa membuat mereka olah raga dan tidak menyentuh xbox.

Kami merasa serba salah mengatur Elka dan Farhan karena selama ini saya dan Amir berusaha keras untuk membatasi permainan game, entah itu di komputer maupun di xbox. Kalaupun kami bolehkan, keduanya dalam batas waktu yang rasional dan diarahkan untuk belajar membaca atau strategi menyelesaikan masalah. Sulitnya teman-teman besar Elka dan Farhan ini mereka yang hobi game. Jadi target utama datang ke rumah adalah komputer dan xbox. Tidak mungkin bagi kami untuk membuang komputer dan xbox dari kamus anak-anak hanya karena pengaruh teman-temannya. Toh Elka dan Farhan sudah bisa belajar mencari tahu sesuatu melalui internet termasuk menulis di blog. Selain pengaruh game mania, teman-teman mereka sering memonopoli permainan dan tidak mau berbagi. Saya sering terganggu karena tangisan dan komplain Elka dan Farhan ditujukan ke saya akibat tidak dapat giliran main. Sulitnya Elka dan Farhan terkadang kurang mendukung kalau saya bersikap tegas, karena mereka khawatir tidak mendapat teman. Sampai pernah saya terpaksa membiarkan seorang anak untuk main komputer di rumah sedangkan saya, Elka dan Farhan pergi bersepeda dan belanja!

Saya baru menghayati mengapa sebagian orang tua suka membatasi pergaulan anak-anaknya, dengan cara yang langsung atau tidak langsung. Mungkin cara tidak langsung lebih nyaman dan bisa tetap menjaga hubungan baik berteman. Caranya ya dengan memberikan anak berbagai macam kesibukan. Jadi sosialisasi dengan teman-teman yang kurang sejalan dengan kegiatan mereka, akan berkurang dengan sendirinya.

Untuk ke depan, saya akan mencoba kedisiplinan waktu dan ketegasan, tapi diimbangi dengan dua hal: pemberian poin bintang sebagai hadiah dan memberikan lebih banyak kegiatan ketika weekend. Mengenai disiplin dan ketegasan, pasti akan ada kesan mama cerewet, mengatur-atur terus, atau ini gak boleh itu gak boleh. Saya memang khawatir kesan itu muncul sehingga mereka tidak mau menganggap saya sebagai teman. Jadi saya imbangi dengan lebih generous memberi poin bintang. Dan tentu saja memberi kegiatan reguler buat anak-anak, seperti ngaji Iqra, berenang, main bulu tangkis, dan belanja. Bisa saja dalam beberapa kegiatan teman-teman mereka ikut serta. Tapi jelas kami yang leading, bukan anak-anak. Hmm coba ah saya diskusiin dengan Elka dan Farhan...

Setelah saya pikir, rupanya memang mau gak mau orang tua harus memberikan perhatian dan waktu untuk anak-anak, kalau mau anaknya menjadi sesuai dengan keinginan....

No comments: