Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Monday, November 09, 2009

strawberry field

It was a perfect day,
perfect weather,
perfect view,
perfect shopping,
perfect crowd from many different nationalities
and colors (including many nice dogs),
perfect song,
but without perfect persons...,

I was in the Central Park, Manhattan, New York, walking by myself, tried to enjoy everything: nice puppies and dogs, cute looking children, runners, cyclists, tourists with their cameras and funny actions, sellers like kaki lima found in most streets in Jakarta, and small bicycle-carts, I don't know the name, but it really like becak, which went by and made Manhattan more crowded.

I walked along the West part of the park, from Colombus circle to the place called Strawberry field. If you are a fan of John Lennon, you must know this place. John Lennon was used to hang out there and was shot dead there too (If people gave me correct stories...). Its a shady circle area, surrounded by trees, where it has three paths from West, North and South. I sat in one of benches surrounded this small area, looking to the middle of the circle, on the ceramic tile whereimaginewas written and became focus of attention of all people there. I was about to cry, not remembering how Lenon died, but moved by many roses set there. It is how wonderful the way people show their love and affection. About ten meters from that circle to the West, another crowd singing happily. They sang together with the street musicians who were about 12 persons bringing guitars, bass, and small drums, Beatles songs! The place is only ten meters from Lenon's (well, Yoko Ono's) apartment, its just separated by a road.

I joined the crowd and enjoyed few songs. I watched the surrounding. People of different color, gender, age, ideologies, nationalities, sang together with passion. The atmosphere was wonderful. One song that most crowd sang loudly (not included dogs... for sure!) was all I need is love..., all I need is love..., all I need is love, love. Love is all you need.Passion and love united peoples no matter they have differences.

Well, its almost a prefect song, if my beloved ones were with me there.
I miss you, Amir, Elka and Farhan.

Monday, May 21, 2007

satu menit saja....

Sore yang indah, walau sedikit dingin di Melbourne. Saya mengikuti Elka, Farhan dan Rifqi bermain di taman seberang rumah. Suasana begitu ceria dan riang. Angin dingin yang bertiup kencang tak diindahkan. Saya sibuk merapatkan syal sedangkan anak-anak berlarian dan melepaskan jaket mereka. Panas katanya.

Suasana berubah ketika seorang ibu berjalan melintasi taman. Ibu muda itu asik berbicara di telpon genggam, sedangkan anak perempuan berumur sekitar 2 tahun berlari menuju ayunan. Anak perempuan itu berteriak senang "swing, swing..." dengan suara yang masih cadel. Ia berdiri di depan ayunan dan berusaha naik. Tapi apa daya, kakinya yang mungil dan pendek tidak bisa menurutkan kehendaknya untuk duduk diatas ayunan. Dengan sabarnya, ia menunggu ibunya yang masih asik menelpon di dekat ayunan. Bahasa tubuhnya memperlihatkan gadis kecil ini ingin sekali naik ayunan.

Setelah percakapan telpon selesai, si ibu kelihatannya mengajak anaknya segera pergi. Saya hanya bisa mengira-ngira karena mereka berbicara bahasa India. Terlihat si gadis kecil menolak dengan terus menerus menyebut "swing" dan memegang erat tali serta kursi ayunan di depannya. Suara si ibu meninggi dan membentak, untuk segera pulang. Si kecil tidak mengindahkan dengan terus merengek-rengek supaya bisa naik ayunan.

Si ibu berjalan menjauhi taman dengan berbicara keras dan mengancam untuk meninggalkan anaknya. Gadis kecil itu tidak goyah, ia diam, dan tetap memegang ayunan. Semakin jauh si ibu berjalan dengan suaranya yang mengancam. Gadis kecil yang malang bertahan dengan keinginannya. Ia tahu, si ibu tidak akan meninggalkannya. Dari balik pagar, si ibu menunggu. Bebeapa saat si ibu kembali menuju ayunan karena anaknya tak bergeming untuk pulang bersamanya.

Seperti bisa saya duga, dengan paksa gadis malang itu ditarik dan digendong oleh ibunya. Tentu saja ia menangis keras. Saya berharap sekali, gadis itu menangis yang keras dan kemudian ibunya akan berubah pikiran untuk memberinya waktu bermain ayunan. Tapi saya tahu, itu tidak akan terjadi. Suara tangisan masih terdengar walau keduanya sudah hilang dari pandangan saya.

Saya jadi termenung. Bisa jadi saya atau kita orang tua bersikap seperti ibu itu. Betapa egoisnya. Ia menelpon lama dan tak memperhatikan anaknya. Tapi ketika si anak meminta waktu sebentar saja untuk main ayunan, ia tidak berikan. Bisa jadi ibu itu tergesa. Tapi saya tidak melihat sama sekali alasan untuk tergesa ketika itu. Kenapa dia bisa menelpon selama lima menit di taman tapi tidak memberikan waktu kepada anaknya untuk bermain bahkan satu menit saja? Padahal dengan beradu argumen dan bermain sandiwara waktunya malah berbuang banyak. Belum lagi waktu yang terbuang untuk mendiamkan anaknya yang menangis kecewa sepanjang perjalanan pulang. Seandainya dia membantu anaknya untuk main ayunan --walaupun sambil menelpon-- atau memberi waktu bermain satu menit saja, mungkin perasaan anak itu tidak terluka. Jika moment satu menit tidak pernah ada dan selalu dilewatkan, bisa dibayangkan bagaimana anak kita tumbuh besar dengan memendam kemarahan, dendam, kesedihan, dibawah kasih sayang orang tuanya yang diktator....

Wednesday, May 16, 2007

gundah dan kepastian

sering aku terlena
gundah dan iri
melihat pelikan terbang bebas
berpetualang dan menimba deru dan embun
di berbagai negeri atas angin

aku terbang membawa serta
dan mengikuti
burung2 kecil yang kucintai

masa depanku adalah burung2 kecil ini
bukan untuk menumpang sarang
bukan untuk mendapat bijian
ketika ku renta
tapi untuk menjadi

kisanak,
kita adalah petualang
yang diberi kesempatan untuk menjadi

bahagia itu nisbi
membuat orang lain bahagia adakah kenisbian yang abadi
terukir di hempasan ombak yang selalu datang dan hilang

membuat orang lain untuk menjadi
adalah kebahagiaan tertinggi

petualangan kita pasti berakhir
entah kapan
petualanganku
akan dilanjutkan oleh burung2 kecil

Saturday, January 20, 2007

Membagi Waktu

Rupanya sulit sekali. Tidak semudah membaca teori tentang membagi waktu. Karena waktu itu abstrak. Dan sesuatu yang diberikan waktu itu juga relatif. Mungkin itu yang membuatnya sulit. Istilah yang sering dipakai adalah juggling between, works, study, and family. Seperti badut yang memainkan bola di udara, dan berupaya menjaga keseimbangan supaya bola-bola itu tertangani semua, tidak ada yang jatuh dan menjadi korban.

Kesadaran akan "juggling" di atas malah menambah kesulitan. Tarik-menarik justru lebih kuat karena ada kesadaran penuh tentang prioritas: mementingkan studi pribadi atau memprioritaskan pendidikan anak-anak, atau prioritas bekerja supaya dapat mendatangkan capital untuk memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak. Sulit. Misalnya, ketika mood menulis sedang bagus dan ingin kerja di kampus sampai larut malam, tapi hati tak tega rasanya. Panggilan telepon dari anak-anak yang sesekali menyapa dan menanyakan kapan pulang, membuat pikiran sudah melayang ke rumah. Apalagi mengingat kalau pulang larut, anak-anak suka tidur di ruang tamu, karena menunggu ibunya pulang. Berat rasanya kalau sedang dikejar deadline pekerjaan atau studi, tapi pada saat yang sama harus mengajarkan ngaji atau berkomunikasi dengan anak-anak dan suami.

Bisa saja kita berdalih, ah biar sekali-kali kan tak apa. Sekali-kali biar suami yang njemput anak-anak, sekali-kali anak-anak dibiarkan bermain xbox sepanjang hari, dan sesekali anak-anak makan junkfood. Tapi justru ini yang berbahaya. Karena virus 'sekali-kali' ini kalau sudah masuk ke software kita, pasti akan merusak semua program. Dan kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sudah jauh meninggalkan kesadaran akan juggling di atas.

Mungkin yang lebih merasakan kesulitan ini adalah ibu. Karena peran domestik ibu biasanya lebih dominan dibandingkan ayah apalagi dalam kultur patriarki yang kental. Enaknya hidup di Australia atau negara Barat lainnya adalah bias gender dan kultur patriarki tidak terlalu kuat. Tidak ada tetangga yang membicarakan jika yang menjemur pakaian adalah suami, bukan istri; tidak ada oang tua yang terganggu jika anak laki-lakinya masak untuk istri dan anak; tidak ada yang mencemooh jika suami menganggur atau penghasilannya lebih rendah dari istri. Mungkin saja di Indonesia sebenarnya cukup enak bagi perempuan karir karena banyak asisten yang bisa membantu sehingga waktu untuk keluarga dan kerja atau studi bisa maksimal. Ada nenek dan kakek yang bisa membantu menjaga cucu; ada babby sitter, ada pembantu rumah tangga, ada adik dan kakak yang bisa diminta tolong. Tapi tentu saja, nantinya akan timbal balik dimana waktu yang untuk anak-anak dan suami juga terkurangi oleh waktu untuk keluarga besar.

Kembali ke prioritas, apa pun prioritas yang dipilih itu pasti ada resikonya. Walau kita berupaya adil terhadap pekerjaan, studi dan keluarga, tentu tidak bisa adil sepenuhnya. Tetap saja tetap ada satu hal yang sering kita prioritaskan lebih dari yang lain. Ini seperti keadilan semu poligami, yang tentu saja tidak bisa sepenuhnya adil. Prioritas ini adalah pilihan, yang kadang kita tidak sadar ketika memilihnya atau meninggalkan prioritas yang lain. Kalau pilihan sadar sih tidak mengapa, karena nanti tidak perlu kaget dengan hasil dan resikonya, apalagi resiko yang negatif.

Jadi bagaimana sebaiknya membagi waktu? Satu hal yang sering kita dengar tentu kedisiplinan. Mungkin tepatnya disiplin yang berhati". Artinya, disiplin itu penting, tapi jangan terlalu ketat. Kalau terlaku ketat, terkadang menghilangkan substansi. Seperti waktu untuk belajar tidak perlu dipaksakan kalau pikiran sedang tidak ke studi tapi ke masalah anak. Mungkin terlihat agak aneh dengan "disiplin yang berhati" ini. Karena dalam kata lain berarti menjalankan disiplin yang tidak terlalu disiplin. hehe. Tapi ini hanya satu dari banyak cara untuk membagi waktu. Tiap orang pasti punya trik dan cara masing-masing dalam membagi waktu ini --kalau yang sadar. Kalau enggak, al-waqt ka al-saif. Waktu itu seperti mata pedang. Kalau kita tidak bisa mengendalikannya, kita akan tertebas oleh mata pedang itu.

Mungkin yang tepat itu bukan membagi waktu, tapi mengendalikan waktu...

Wednesday, August 23, 2006

Kemerdekaan Yang Sepi

Hari ini hampir di tiap RT dan kelurahan
masyarakat merayakan kemerdekaan Indonesia
sebagai sebuah negara kesatuan yang berdaulat

Hingar bingar
warna warni
gegap gempita
manusia berbaris, berkerumun, bergerombol,
berdecak, bernyanyi, bertepuk
sorak sorai membahana
pesta rakyat

tapi tidak di sini
sunyi, sepi, tenang
seperti hari biasa yang tidak istimewa
tak terlihat pesta, tak terlihat suka cita
semua tenang
santri tetap pergi mengaji
jalan desa berbatu nan terjal tetap sepi
pohon-pohon tak berhias
dalam nuansa nyaman, teduh dan bersahaja
sampai senja datang

malam menjelang
sepi semakin senyap
cahaya temaram mulai terlihat hanya dari beberapa rumah
kegelapan menjadi bagian dari kehidupan

pintu rumah tak terkunci
jendela tetap terbuka
tak ada yang dikhawatirkan
semua merasa bersaudara
semua merasa aman

suara jangkrik semakin keras terdengar
mengakhiri hari yang dianggap sakral
kemerdekaan hadir disini dalam nuansa yang berbeda

kemerdekaan dari aliran listrik
kemerdekaan dari materialisme
tanpa TV, radio, kulkas, apalagi motor dan mobil
kesederhanaan yang mendamaikan

Dirgahayu RI yang ke 61
Kaligintung, Bumiayu

Thursday, June 22, 2006

Better Than Thou

A quote today: Holier Than Thou

"A distinguished Turkish gentleman said to me recently, 'I have no problem with beards or veils or religious symbols. The most important thing for me is to worship God with my heart and soul.' If we weren't so busy judging others we might have the time and inclination to do just that." (Lubna Hussain, Holier Than Thou. Ms Hussain is a Saudi writer based in Riyadh.)

There is no problem in criticism. But some peoples are judging others to say that they are better from others, overlooking and covering their own foibles. Then few of them usually will velify anything coming from others without having solution. Thanks God they are only few, I hope :)

Amelia

Tuesday, May 30, 2006

Belajar dari Muhammad

Saya sedang terheran-heran dengan perilaku manusia yang aneh-aneh terlebih lagi yang sadar atau tidak sadar menyakiti orang lain. Kemudian saya berfikir sikap terbaik apa yang harus dilakukan menghadapi sikap dan orang seperti itu. Setelah melihat contoh sana sini, sampailah akhirnya saya terkagum-kagum dengan Muhammad, pribadi yang sungguh luar biasa.

Memang dari kecil sih saya sudah dicecer kalo Muhammad itu Nabi pilihan, nabi terakhir, yang harus dipuja-puji (dengan shalawat), diingat, dan dijadikan contoh. Tapi ideologisasi itu akan sia-sia belaka jika tidak ada pembelajaran tentang Muhammad. Bahkan ideologisasi itu bisa berubah menjadi sakralisasi yang efeknya bisa sangat bertentangan dengan substansi ajaran yang dibawa Muhammad, semoga shalawat dan salam terlimpah untuknya (bahasa Arabnya sallallahu alaihi wasallam).

Masyarakat dunia sudah banyak memberikan apresiasi sehingga menjadikkan Muhammad sebagai satu dari beberapa gelintir tokoh dunia. Tapi sayang, banyak dari umat Islam yang mencintai dan memujanya tanpa mendalami substansi ajarannya. Bayangkan saja, banyak yang kerjanya setiap hari bershalawat dan membela mati-matian nama Muhammad dengan cara kekerasan, mengeluarkan sumpah serapah bahkan mau membunuh orang yang dianggap merendahkan Muhammad. Tindakan ini jauh dari apa yang dicontohkan Muhammad itu sendiri.
Bayangkan, Muhammad tidak saja secara psikis direndahkan, misalnya dengan perkataan kotor, tapi juga secara fisik mendapat kekerasan dari kaum dan orang yang tidak setuju dengan ajarannya. Kayak jaman sekarang juga sih. Kelompok yang tidak setuju itu cenderung menolak dengan anarkis, bukan dengan jalan dialog yang justru bisa mencerahkan dan memberi damai buat semua pihak. Muhammad beberapa kali dilumuri pakaiannya dengan kotoran dan dilempari batu, masih bisa tersenyum. Bahkan ketika orang yang mengganggunya itu sempat absen karena sakit, Muhammad menjenguknya! Bayangkan saudara-saudara....

Jadi kalau dihina oleh orang lain, dibohongi, difitnah, disakiti, tidak perlu gundah dan sakit hati. Toh yang sebenarnya lebih gundah dan sakit hati itu orang yang menyakiti kita kok. Jadi kita tidak perlu sakit hati juga yang hanya akan menjadi penyakit menahun dan membuat hidup kita sulit. Memang tindakan itu tidak bisa didiamkan. Itu pelajaran berharga. Tapi tidak perlu dibalas dengan tindakan yang sama, karena berarti kita podho wae sama orang yang menghina kita itu. Jadi be happy. Ambil sisi positifnya.

Semakin saya kagum saja sama pribadi Muhammad..., semoga salawat dan salam dilimpahkan untuknya.

Thursday, May 18, 2006

Ketidakberuntungan

Perasaan, tahun 2006 ini saya tidak banyak mendapat keberuntungan alias lagi sial. Mungkin bahasa positifnya ya belum beruntung. Cukup mengganggu juga. Sampai-sampai saya berpikiran tahun 2006 ini bukan tahun keberuntungan saya atau saya terkena kutukan karena kurang berdoa atau pernah ngomongin orang. (Hehe, pikiran orang Indonesia....). Itu penjelasan yang bersifat emosional supernatural! Selama ini kalau saya mendapat keberhasilan saya selalu berpikir alasan rasional dibalik keberhasilan itu, misalnya kerja keras. Nah kalau tidak berhasil, mulai deh mencari kambing hitam atau mencari jawaban yang supernatural itu ... :)

Tapi memang selama ini saya percaya betul dengan kebaikan dibalas dengan kebaikan dan begitu pula sebaliknya. Makanya saya selalu berusaha berbuat baik supaya menuai kebaikan. Dan juga percaya dengan the power of prayers. Ini juga akibat pengaruh Amir yang selalu bilang saya selalu beruntung dan banyak orang yang mendoakan. Entahlah saya belum bisa membuktikan secara ilmiah mengenai kekuatan doa ini tapi bisa saya rasakan sendiri. Hanya harus disadari bahwa tidak semua niat kebaikan itu dianggap baik oleh orang lain. Ada kebaikan yang harus dilakukan dengan kejam, ada yang harus dipaksakan, ada yang malah dianggap kejahatan. Apalagi kalau sudah masuk politik, kebaikan dan keburukan itu relativitasnya sangat tinggi dan bisa dibolak-balik tergantung konteks, zaman, dan power.

Kembali ke perasaan sial diatas, sebenarnya kalo diingat-ingat, tidak semua target saya gagal sih. Hanya karena ada target besar yang tidak tercapai atau target yang terlalu tinggi, jadi muncullah perasaa sial dan ketidakberuntungan ini. Begitulah cita-cita itu harus tetap tinggi seperti bintang di langit. Kalau pun gak bisa sampai ke bintang nun jauh disana, sampai planet Mars juga udah syukur.

Ya, bersyukur. Ini bukan sekedar mengikuti filasafat orang Jawa yang selalu bersyukur (mis. beruntung masih selamat dari kecelakaan, walaupun harus kehilangan mobil; beruntung dia meninggal sehingga tidak merasakan penderitaan yang berkepanjangan). Bersyukur itu menenangkan hati dan membuka rezeki. Tanpa bersyukur manusia jadi sombong dan tidak sadar diri. Saya jadi ingat syair lagu yang digubah oleh guru kesenian saya Ustadz Haris waktu saya kelas satu tsanawiyah. Lagu yang diambil dari terjemah Surat Al-Kautsar ini masih sering saya senandungkan, walaupun saya kurang sreg dengan baris terakhir (dalam konteks lagu lho, bukan memprotes ayat). Mungkin sebaiknya "sungguh orang pendengki, terputus dari kebajikan". (Hhihi, kayaknya kurang klop juga. Rupanya susah ya bikin lagu...). Anyway, ini syair lagu itu...

"Sungguh kami telah berikan, padamu nikmat teramat banyak
Sungguh kami telah kurniakan, limpahan rahmat teramat luas
Maka bersembah sujudlah, dan tunaikanlah berkurban
Sungguhlah musuh-musuhmu, terputus dari kebajikan.."

Cara yang mudah untuk bisa bersyukur, coba melihat "ke bawah". Memang kita perlu sering melihat "ke atas" supaya bersemangat untuk melakukan perubahan. Tapi perlu keseimbangan juga dong untuk melihat ke bawah. Baru deh kita sadar kalau nasib kita jauh lebih beruntung dari banyak masyarakat kita yang jauh dipedalaman tidak bisa sekolah apalagi mengakses internet, yang terkena busung lapar, yang terpaksa hidup di pengungsian. Nah baru deh kita sadar kalau kita itu masih diberi nikmat selain kesialan tadi. Oh iya, pentingnya melihat ke bawah itu juga supaya kalau jalan tidak tersandung dan supaya leher tidak panjang .. :)

Yang paling jelas blessing dari perasaan kesialan ini adalah.... saya jadi menulis di blog yang pernah dibikin setahun yang lalu! Padahal keinginan ngeblog sudah menguat sebulan terakhir. Tapi alhamdulillah ada perasaan kesialan... :)

Amel, Melbourne 18 May 2006