Saturday, March 31, 2007

ultah keluarga masduki

Sudah lama pingin investigasi ultah saudara terdekat.
soalnya terharu dan ingin berbalas kebaikan mereka karena udah
mengingatkan dan kirim ucapan ultah.
Sekalian untuk mengingatkan saya tulis aja deh ultah mereka.

Mbak Eva, 18 September 1964
Mas Apang, 23 Februari 1965
Mas Oce, 22 Juni 1966
Mas Tato, 12 Februari 1970
Myself
Erike, 2 agustus 1972
Wiwiek, 6 Juli 1977
Elina, 31 Oktober 1976
Papah, 28 Oktober 1937
Mamah, 5 Juli 1948

sekalian,
Amire, 18 Juli 1970
Elka, 22 Juli 1999
Farhan, 31 Oktober 2000

Bagaimana ultah diingat, tidak diingat, dirayakan atau tidak itu adalah kultur. Tapi jika mengingat atau mengingatkan ultah berarti instrospeksi diri, menjadi kebaikan kan?

Tuesday, March 27, 2007

Birthday

My parent's family used to celebrate birthdays, even though only by giving a congratulation statements, without parties or gifts. Until today my parents, sisters and brothers still sending me SMS reminding me my birthday.

Birthday is a day to remembering our dreams and what have we achieved. For me its simply a day to ask 'what have you been?' or sing Syair Abu Nuwas (a gay poet) especially on parts: wa 'umry nāqish fi kulli yaumy, wa zanby zāid un kaifa ihtimāly. (umurku berkurang setiap hari, sedangkan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya).

When we were in Indonesia, we never made serious parties for both Elkana and Farhan's birthdays. We used to delivered birthday cakes to our surrounding neighbours who did not know what was the cakes for. The last one I remember was Elkana's 5th birthday that we held few days before we went to Melbourne. We prepared everything except circulating invitation. On the day, we just asked Elkana and Farhan to bring their friends who used to play outside house to come inside. Then we sang, eat snacks, drink juices, and gave those children big lolly bags and pieces of birthday cake. Elkana was very happy.

However, when these boys grew up, they knew that celebrating birthdays meant getting toys and presents. For Elkana's birthday we could not say no for having a small party at home. For Farhan's 6th birthday we could manage for not having a party at our house. Instead we brought cakes and lolly bags to Farhan's class room in the morning and to Farhan's friends at the After Care program in the afternoon. When Farhan realized that he did not get any presents, he then asked (all the times) that we should celebrate his 7th birthday at home. I hope this request is only for 7 years old children.

Happy birthday...




July 22, 2006
Elkana's friends in his 7th birthday.
They played pass the puzzle game.





October 31, 2006
Loretta, the coordinator of the After Care program, helped Farhan to cut the cake. It was so yummy...




October 31, 2006
Farhan's friends were singing a birthday song for Farhan before he blew the candles.

Empat Mata, boleh juga...

Akhir-akhir ini sering nonton acara Empat Mata- nya Tukul lewat youtube. Seru banget. Kita ketawa-ketiwi. Selain bikin urat-urat jadi kendor, acara ini jadi pengobat rindu akan Indonesia. hik,hik.

Pelawak yang bagus itu ya seperti Tukul, lebih banyak menertawai kekurangan diri sendiri (dari pada ngomongin orang lain). Akhirnya malah jadi self kritik. Bravo! Saya senang karena acara humor ini pro keadilan gender, pro keluarga harmonis (maksudnya monogamous marriage bukan poligamy), juga menjadi kritik sosial. (Awas lho, kalo mendukung poligamous marriages kita boikot gak mau nonton lagi).

Semoga ke depan kritik sosial dan edukasi -nya diperkuat misalnya masukin isu seperti kepedulian terhadap lingkungan, bahayanya terorisme, kedermawanan sosial, pendidikan antikorupsi, pendidikan agama yang inklusif, dan multikulturalisme etnik dan agama.

Diem-diem tampang Tukul udah rada alus sekarang, walaupun ndesonya masih kelihatan. Tapi dengan tampang ndeso dan tampilan yang natural ndeso itu doi jadi komersial. Tukul, you are too cool...

Saturday, March 17, 2007

Elka - Farhan Kecil

Ngeliat foto elka dan farhan kecil rasanya waktu cepat sekali berlalu.
Elka dan Farhan kelihatan seperti sosok yang berbeda ketika kecil.

Di foto ini (dari kiri ke kanan) ada Galuh, Ucuy, Harun, Elka, Farhan dan Galih. Farhan agak gemuk dibanding Elka yang kurus.


Di foto ini ada Akung sedang duduk dan Ai berdiri disampingnya. Elka berdiri disamping Harun. Zahra dipangku Om Oce.

Farhan berbaju merah bersama Ucuy, Harun, Zahra, dan Galih.


Waktu berjalan cepat...

Friday, March 16, 2007

Lebaran-nya Indonesia



Shalat Ied di Sport Center Melbourne University


Pas lihat-lihat foto, terlihat ada foto-foto yang kami buat pada saat Lebaran tahun lalu (2006). Senang rasanya melihat foto-foto itu. Kami sekeluarga begitu ceria.


Lebaran sebenarnya momen lintas bangsa bagi umat Islam. Tapi memang realnya kami lebih senang untuk shalat dan berkumpul dengan 'mahluk' sejenis. Bukan apa-apa, selain khutbahnya tidak dalam bahasa yang aneh terdengar di telinga, makanannya juga pas dilidah. Bayangkan kalau kita ke Mesjid Turki atau Libanon. Mengantuk dan bosan, juga terasing rasanya. Selain masalah 'rasa' dan bahasa, alasan teknis lain juga ada. Hari lebaran komunitas ini belum tentu sama dengan lebarannya komunitas Indonesia.


Sama-sama di Melbourne, tapi pilihan lebarannya beda. Kalau masalah perbedaan ini berdasarkan perhitungan rasional kalender dan melihat bulan (hilal dan ru'yah), yah masuk akal deh. Tapi penentuan lebaran ini lebih banyak tidak rasional. How? Lha masing-masing komunitas pertama melihat lebaran yang dilaksanakan di negara asal masing-masing. Lalu penetapan lebaran ini mengobrak-abrik sistem kalender. Maksudnya penetapan itu lebih emosional karena sebenarnya bisa membuang sehari atau menambah sehari penanggalan hijriyah. Yang kelihatan jelas itu kalo lebaran haji. Orang ribut menetapkan 10 dzulhijjah. Lho, emang dengan gitu tanggal 1 dzulhijjahnya bisa dirubah? Selain itu, sebagian besar komunitas itu 'manut' pada lebarannya Saudi yang menurut para ulama Saudi sendiri jangan menuruti waktu Saudi. Karena perhitungan lebaran itu bersifat lokal, walaupun momennya internasional. Memang perbedaan itu rahmat. Tapi mengikuti secara buta ini something which is totally wrong.

BTW, jadi hampir lupa nih niat utamanya: upload foto!

Bersama Rifqi, anak yang tegar walaupun sedang jauh dari ayah (di Indonesia, belum bisa datang ke Ozy) dan ibu (conference somewhere in Australia) nya.

Kami sekeluarga berbatik ria. Batik hadiah dari Yang Uti akhirnya kesampaian juga dipake sama Elka dan Farhan. Bagus ya...

Pendidikan Multikulturalisme = Melawan Rasisme

Tadi baru mengisi acara di Coburg Library. Bersyukur tadi bisa bawa Elka untuk ikut acara itu. Acaranya sih intinya untuk launching buku-buku mengenai Indonesia yang ada di perpustakaan Coburg. Terus dikaitkan dengan Diversity Week di Victoria, maka tema Multikulturalisme begitu jelas.

Tadi presentasiku juga bertema diversity etnis dan agama di Indonesia, terus topik yang kuambil mengenai diversity dalam acara pernikahan. Selain saya ada Elise Gould mahasiswi unimelb yang mengisahkan pengalamannya di Indonesia khususnya mengenai diversity culture.

Ending acara di Coburg tadi bagus sekali. Penampilan tari topeng Cirebon yang diiringi gamelan kelompok Putra Panji Asmara pimpinan Michael Ewing. Saya sebelumnya sudah pernah lihat Micheal menari dan penampilan gamelan Cirebonnya. Tapi kali ini ada humor teatrikalnya/ Mungkin kalau di wayang itu seperti 'goro-goro' yang isinya guyonon si Semar. Ini improvisasi yang cerdas. Mana yang jadi 'Semarnya' Prof Helen lagi. Bener-bener seperti clown. Penampilan kelompok gamelan dan tari topeng ini jadi 'ramah' anak-anak pula. Walau tarian terakhir terlalu panjang, secara umum penampilan mereka luar biasa.

Sambil menyaksikan Michael menari diiringi musik Sunda yang mengalir (tapi belum bisa ngalahin degung...), saya berfikir mengenai apa yang dilakukan Coburg library, pemerintah victoria, dan masyarakatnya. Diversity disini begitu dihargai. Diberi nama Multikulturalism. Bahkan anak-anak pun --melalui pemberian pita oranye untuk disematin dibaju-- didoktrin untuk tidak berbuat rasis. Anti diskriminasi. Duhai, indahnya perbedaan.

Pendidikan Multikulturalisme itu bisa dari mana saja, tidak hanya dari sekolah formal. Perpustakaan disini benar-benar berfungsi menjadi center edukasi buat masyarakat, dan mendukung program sekolah anak-anak usia sekolah. Perpustakaan bukan sekedar tempat menaro buku untuk bisa dibaca, tapi memiliki kaki dan tangan untuk meraih dewasa dan anak-anak. Ada program menggambar berhadiah untuk anak-anak, ada acara talk, acara kesenian, ada komputer bagus untuk browsing, dan dibuat untuk family friendly... (Duh, kapan ya, Indonesia punya perpustakaan seperti itu).

Dengan center-center seperti perpustakaan Coburg ini, wajar saja jika diversity menjadi sesuatu yang indah, bukan petaka. Bukan konflik etnis dan agama, bukan perang antar suku, bukan kebencian tidak berdasar, tapi bagaimana memahami perbedaan, dan menjadikannya sebuah potensi untuk kebersamaan dan perdamaian.

Lets fight against racism!

Saturday, March 03, 2007

Maisy goes to the library

by Farhan

Maisy likes going to the library. how lovely to look at a book in a nice quiet piace. it was the sort of day when Maisy wanted a book about fish. she found a flappy book about birds ... but no fish. she f0und a shiny green book about turtles ... and a great big stripy book about tigers but no fish! Never mind , there are so many other things to do in the library ... use the computer listen to music make a copy of your favourite picture ... look at the fish in the aquarium ...

starwars star pilot

by elkana

The starwars galaxy is a big place with millions of planets in it and it is yours to explore. But you are going to need a ride and maybe you will take a shin in a speedy starfighter. perhaps cruising in a silver star ship is more your style. With luck you will steer clear of the terrifying supur star destroyers in the huge starwars galaxy you need space vehicles for getting around. There are thousands of different ships zooing among the star. Some carry just one passenger whilst others move an entire army. This book sh ows you all the important starwars spacecraft. Welcome to the galaxy. Step in buckle up and enjoy the ride. Droid Control Ship The trade federation is a powerful group of greedy merchants from all over the galaxy. ils leaders fly around in large doughnut shaped cargo ships. The trade federation is unhappy with the galactic Reepublic which rules the galaxy. To prepare for war the trade federation secretly changas its cargo ships into battleship. These can carry weapons and robot soldiers called battle droids.

Tuesday, February 20, 2007

Legos and bionicles


















by Elkana


Hi my name is Elkana. I am going to talk about legos and bionicles. Legos are toys you can make things with it.It can be in a box and in the box you can make a big toy to play with. bionicles are good because it is hard and it is betar than leogs. It is my creation

Saturday, February 17, 2007

Kaus Kaki Bolong...?

Heran deh, sejak Elka dan Farhan masuk SD kaus kaki kaki mereka cepat sekali rusak. Lubang-lubang berwarna coklat menganga di bagian bawah jari kaki seperti habis dipakai berjalan tanpa sepatu di tanah lapangan keras. Tidak saja kaus kaki, bahkan sepatu mereka juga memperlihatkan tanda-tanda yang sama. Bolong! di bagian telapak kaki depan, atau di bagian atas jari kaki. Bolongnya seperti kanfas rem yang sering direm mendadak. Gak mau kalah, celana panjang mereka juga bolong di bagian lutut. Awalnya sih terlihat beset-beset seperti kena amplas. Lama-lama robek dan mengangga lebar seperti tertawa mesem. Jadi keluarnya uang dollar kertas berwarna merah ($20) dan kuning ($50) membengkak tiga kali lipat untuk beli kaus kaki, sepatu dan celana panjang.

Sewaktu Farhan masih di tk dan Elka grade one di SD, tiap hari sepatu dan kaus kaki mereka berwarna coklat dan berlumuran pasir. Di TK dan sekolah memang ada pasir yang sengaja ditaro untuk main. Saya sampai khawatir pasir-pasir itu habis akibat terbawa sama anak-anak setiap hari. Apalagi Farhan, celana sekolahnya juga ikut full pasir. Jadi tiap pagi saya mbalik dan ngoyang-ngoyangin sepatu farhan supaya pasirnya jatuh. Amir juga paling gak sebulan sekali masukin sepatu-sepatu bergambar spiderman dan kura-kura ninja itu ke mesin cuci kami yang dahsyat, bisa mencuci apa pun yang masuk dengan baik. Ketika keduanya di SD (Farhan di prep dan elka grade 1), kasus bolong ini semakin menjadi-jadi. Bahkan rupanya celana bolong ini diproduksi seimbang antara elka dan farhan. Tapi, kasus pencurian pasir yang masuk dalam sepatu sudah tidak ada lagi.

Keheranan saya terjawab sdikit-sedikit waktu saya sering ke sekolah. Bolong yang menimpa kaus kaki, sepatu, dan celana itu akibat pola bermain mereka. Dalam permainan apapun yang mereka lakukan, elka-farhan menjatuhkan diri atau jatuh di atas karpet yang nyaman dengan kaki dan lutut mereka sebagai rem. Nah rata-rata 3 jam setiap hari mereka melakukan aktivitas fisik di sekolah dan aftercare program. Pantas saja kaus kaki bahkan sepatunya bolong pada bagian depan. Sejak itu elka dan farhan jarang sekali pake celana pendek, soalnya daripada lutut mereka yang jadi rem, mendingan celana panjang mereka yang jadi tumbal.

Lucunya mereka lebih menyukai celana bolong itu daripada celana barunya. "Bolong? who cares?" kata mereka.

Wednesday, February 07, 2007

Australia Day




Australia Day dirayakan setiap tanggal 26 January. Pada perayaan Australia day tahun 2007 ini Elka dan Farhan bersama Rifki ikut pawai Australia Day di city.



Pawai dan perayaannya bertemakan Australian Unity, intinya sih seperti Bhineka Tunggal Ika aja, menyatukan semua elemen masyarakat yang berasal dari beragam bangsa dan berkarya di berbagai bidang untuk punya semangat kesatuan. Misalnya di bawah ini dari komunitas Kroasia dan dari grup atletik.



Tapi yang paling banyak mendapat sorotan adalah komunitas bangsa atau katakan saja etnis, misalnya dari Italia, Cina, India, dan termasuk Indonesia. Dari pawai ini kelihatan yang cukup berhasil dalam beradaptasi 'menjadi Australia' adalah komunitas Cina. Lha wong walikota Melbourne yang sekarang juga keturunan Cina kok. Yang terlihat serba salah adalah dari negara-negara Islam seperti Pakistan dan Libanon. Apalagi yang terakhir ini sering memperlihatkan potensi rasial vis a vis kulit putih. Cukup kontras melihat barisan perwakilan dari Pakistan yang hanya sekitar enam orang saja dan barisan Indonesia yang tepat dibelakangnya. Pakistan hanya diwakili oleh laki-laki, berjenggot, tanpa kemeriahan pakaian adat (malah kesannya sedikit menakutkan begitu, karena menggambarkan kelompok Islam radikal...). Sedangkan barisan Indonesia begitu colourful, meriah, imbang antara laki-laki dan perempuan (bahkan lebih banyak perempuan). Tapi harus diapresiasi kalau kelompok-kelompok 'ragu' seperti Pakistan itu ada keinginan untuk berpawai dalam 'Australia bersatu', karena kalau tidak mungkin bisa menjadi contoh kasus clash civilization antara Islam dan Barat.



Nah Elka, Farhan dan Rifki termasuk barisan depan. Trims untuk kak Ning (ketua grup seni) yang mengatur pawai dan Nana (mamanya Rifki) yang mengajak dan mengenalkan saya dengan kak Ning. Berkat mereka, Elka dan Farhan bisa ikut pawai.



Setelah pawai selesai, Elka, Farhan dan Rifki menikmati berbagai hiburan. Mereka bermain bola pukul (wah gak tahu namanya apa ya...), jumping castle, naik jembatan pramuka, komidi putar, dan golf. Terakhir ketika pulang kami berfoto deh di depan fotonya si 'c'mon!,' bukan si Cemon tapi Hewitt bintang tenis Australia. Australia Day juga bertepatan dengan even tenis internasional yaitu Australia open. Jadi Melbourne ramai dengan turis. Kota Melbourne ini memang kota turis, dan semua even itu dikelola baik sekali untuk menyenangkan dan mendatangkan turis serta membuat penduduk Melbourne senang...

Happy Australia Day...

Tuesday, February 06, 2007

Sovereign Hil: Mengalami Sejarah...

Tanggal 27 January, sehari setelah Australia Day, kami jalan-jalan ke Sovereign Hill, di Ballarat, Melbourne. Ini benar-benar wisata sejarah di mana pengunjung diajak untuk mengalami sejarah itu sediri. Diantaranya



memakan makanan seperti tahun 1850 di Ballarat (permennya kami makan sekeluarga baru habis dalam satu hari...),




bersekolah dan belajar menulis huruf latin dengan pena (sebenarnya banyak sekolah negeri dan madrasah di Indonesia dalam kondisi seperti ini atau jauh lebih sederhana dari sekolah tahun 1850 ini),




dijaga oleh prajurit bergenderang dengan pakaian yang fancy,







memakai pakaian ala cowboy dan cowgirl (sampai pakaian dalam dan aksesoris seperti jam dan anting, sesuai dengan tahun 1850 itu),





mendulang emas (pasir-pasir dan debu emas masih banyak di temukan di aliran sungan kecil itu lho...),





dan pesta gelembung air (bubles)!



Kota ini dibangun kembali untuk tujuan wisata. Dan setiap harinya dibantu oleh sekitar 250 orang volunteer yang berperan sebagai penduduk sovereign hill tempo doeloe: ada yang mendulang emas, membuat permen, membuat panci dan piring, naik kereta kuda, dst. Tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, kelihatannya semua aspek bisa dijadikan uang. Mereka juga tidak lupa untuk memberi entartainment untuk anak-anak diantaranya ya gelembung air itu. Dan yang paling berkesan adalah 'gold mine tour' di mana kami masuk ke bawah tanah untuk melihat penggalian emas tempo dulu. Jaman dulu perempuan gak boleh masuk, tabu dan bisa membawa sial katanya. Ih orang Melbourne dulu percaya tahayul juga... Tapi memang dunia penambang itu sangat keras dengan resiko kehilangan nyawa yang sangat tinggi. Dulu anak-anak dipakai sebagai buruh kasar yang seharinya mendapat upah setengah upah orang dewasa.


Duh padahal di Indonesia kita punya banyak potensi wisata sejarah. Seandainya bisa dikelola seperti ini, pasti luar biasa.

Gold Coast


Monday, February 05, 2007

from monday

by farhan
in Monday i went to School and it was lunch time. then i played with Fatima a little bit then wi line up in the lineing up area. then wi went up the stairs

Antara Pertemanan dan Kegiatan Anak-anak

Weekend kemarin saya agak kerepotan mengatur Elka dan Farhan karena teman-teman mereka. Bukan karena teman-temannya ini berumur 5-7 tahun lebih tua dari Elka (7) dan Farhan (6), tapi karena mereka keranjingan game (xbox, PS, computer games), dan cenderung tidak mau berbagi dalam permainan. Elka dan Farhan senang sekali dengan kehadiran teman-temannya ini sepanjang hari di rumah, tapi tidak berdaya jika mereka merasa dirugikan. Selain itu Elka-Farhan cenderung mendengar teman-temannya daripada mengikuti kegiatan keluarga. Kami jadi serba salah mengatur anak-anak dan kehilangan privasi di rumah sendiri.

Masalah privasi sudah bisa tertangani dengan memberikan aturan tegas tidak boleh masuk kamar. Anak-anak juga mengerti walaupun keberisikan mereka di ruang tamu tetap terdengar sampai kamar. Sebelumnya mereka tetap bermain di kamar walaupun saya atau Amir sedang bekerja atau istirahat di kamar yang sama. Ini memang karena kami terlalu terbuka. Jadi kebijakan mengenai privasi sudah ketok palu. Kemarin pun anak-anak beserta teman-temannya mau ketika saya minta untuk main di halaman atau di taman. Walaupun cuma 1 jam, lumayan lah bisa membuat mereka olah raga dan tidak menyentuh xbox.

Kami merasa serba salah mengatur Elka dan Farhan karena selama ini saya dan Amir berusaha keras untuk membatasi permainan game, entah itu di komputer maupun di xbox. Kalaupun kami bolehkan, keduanya dalam batas waktu yang rasional dan diarahkan untuk belajar membaca atau strategi menyelesaikan masalah. Sulitnya teman-teman besar Elka dan Farhan ini mereka yang hobi game. Jadi target utama datang ke rumah adalah komputer dan xbox. Tidak mungkin bagi kami untuk membuang komputer dan xbox dari kamus anak-anak hanya karena pengaruh teman-temannya. Toh Elka dan Farhan sudah bisa belajar mencari tahu sesuatu melalui internet termasuk menulis di blog. Selain pengaruh game mania, teman-teman mereka sering memonopoli permainan dan tidak mau berbagi. Saya sering terganggu karena tangisan dan komplain Elka dan Farhan ditujukan ke saya akibat tidak dapat giliran main. Sulitnya Elka dan Farhan terkadang kurang mendukung kalau saya bersikap tegas, karena mereka khawatir tidak mendapat teman. Sampai pernah saya terpaksa membiarkan seorang anak untuk main komputer di rumah sedangkan saya, Elka dan Farhan pergi bersepeda dan belanja!

Saya baru menghayati mengapa sebagian orang tua suka membatasi pergaulan anak-anaknya, dengan cara yang langsung atau tidak langsung. Mungkin cara tidak langsung lebih nyaman dan bisa tetap menjaga hubungan baik berteman. Caranya ya dengan memberikan anak berbagai macam kesibukan. Jadi sosialisasi dengan teman-teman yang kurang sejalan dengan kegiatan mereka, akan berkurang dengan sendirinya.

Untuk ke depan, saya akan mencoba kedisiplinan waktu dan ketegasan, tapi diimbangi dengan dua hal: pemberian poin bintang sebagai hadiah dan memberikan lebih banyak kegiatan ketika weekend. Mengenai disiplin dan ketegasan, pasti akan ada kesan mama cerewet, mengatur-atur terus, atau ini gak boleh itu gak boleh. Saya memang khawatir kesan itu muncul sehingga mereka tidak mau menganggap saya sebagai teman. Jadi saya imbangi dengan lebih generous memberi poin bintang. Dan tentu saja memberi kegiatan reguler buat anak-anak, seperti ngaji Iqra, berenang, main bulu tangkis, dan belanja. Bisa saja dalam beberapa kegiatan teman-teman mereka ikut serta. Tapi jelas kami yang leading, bukan anak-anak. Hmm coba ah saya diskusiin dengan Elka dan Farhan...

Setelah saya pikir, rupanya memang mau gak mau orang tua harus memberikan perhatian dan waktu untuk anak-anak, kalau mau anaknya menjadi sesuai dengan keinginan....

Sunday, February 04, 2007

about 50 stars

by elkana
Me and farhan and my mum made a promise we can get a toy or a game when we get 50 stars.
We can trade our stars cheap things and we could lose stars.If we want to get 50 stars we can do the dishes make the bed pack up toy serve food to mum and dad help people teach others.

Trading Stars

Two weeks ago Amir and I bought a quite expensive lego for Elka and Farhan. We could not avoid that because we promise that they could have presents they like if they get 50 stars. Each of them got 50 stars after collecting them around a month and a half from activities such as having shower, packing up rooms, no playing xbox, reading iqra books, and finishing their dinner or lunch.

Our effort to save money by preventing their wishes to buy toys all the time is fail. Because this way only accummulates their dreams to have toys. And this way could not eliminate their requests to have treats such as ice creams, fried chickens, burgers, and other junk food.

We have a new strategy namely trading stars. This time they can loose their stars and trade them with toys or junk food they like. One star equivalent to $1. I am happy that both Elka and Farhan agree with this new plan. They said its fair.

Yesterday both Elka and Farhan lose several stars they had for having fried chicken and pasta from their favourite restaurants. I hope this plan will run well.

Saturday, February 03, 2007

Happy and Messy


I keep myself from packing up my children toys all the time and from forbidding them to play and make a mess. Of course many times our living rooms and bed rooms are very messy. Parents may choose of being tidy at the same time keeping children happy. But its difficult. Parents may tend to the right or the left. Amir and I tend to be the left ones. We thought, being creative is difficult without messy. Fortunately when my children are in a good mood they pack up the mess themselves.
Another mess in our house is a wall that Amir and I dedicate for showing our children works. It looks messy isnt it? Thats OK for us. As long as Elka and Farhan are happy and they understand that we do appreciate their creative works.

Thursday, January 25, 2007

PhD supervision

I am quite happy that finally the institute where I study does something regarding student supervision. I did not really care about supervision actually, from the very beginning of my Ph.D candidature. My principal supervisor resigned before I did my confirmation examination. I was like in the middle of nowhere. It was terrible situation because I came to this institute to learn from this person expertise. I could not blame the resigned supervisor. If I were in his position I might do the same as he did. What made me skeptical about supervision was that the institute was powerless and could not help me to continue supervision with the resigned supervisor. Other students and I were encouraged to choose someone from the institute as our formal supervisors; where actually has very limited resources.

After three years of my study, it seems that these formal supervisors were too kind to me; they never want to disturb my enjoyable study. I did two fieldworks in Indonesia and an archive research in the Netherlands, and went from a conference to a conference (from East to West, North to South). Last year I wrote only one very rough chapter that I was not satisfied at all. However, my supervisors neither gave complaints nor comments on what I wrote and I did. I think my supervisors are too kind and see me with too high standard so I did not really need ‘help.’ Or they just want to let me being supervised informally with my resigned supervisor, who is my shadow supervisor. This shadow supervisor is very helpful: reading my chapters, reports and essays; giving comments, references, and suggestion too. The only problem is he is too far away. I always break my promise to send him a revised chapter or even a progress email every month.

I know this is certainly unusual and bad direction. But I did not want to make a pressure on my recent supervisors too. I am doing my own project research, not them. So, I feel I get a freedom to do what I want to do. What a positive thinking! After three years I would say that I enjoyed of having not enough supervision.

Now, the institute wanted to encourage these supervisors to be more helpful. I welcome. Its good deed, why not supporting it? In fact, I do need help that urge me to write my thesis chapters. I am looking forward to have a different way to enjoying my phd.

By this curhat I just one to give advice. For those of you want to take PhD studies, please choose the right supervisor. If you get the wrong one, keep cool and enjoy it! :)

Saturday, January 20, 2007

Membagi Waktu

Rupanya sulit sekali. Tidak semudah membaca teori tentang membagi waktu. Karena waktu itu abstrak. Dan sesuatu yang diberikan waktu itu juga relatif. Mungkin itu yang membuatnya sulit. Istilah yang sering dipakai adalah juggling between, works, study, and family. Seperti badut yang memainkan bola di udara, dan berupaya menjaga keseimbangan supaya bola-bola itu tertangani semua, tidak ada yang jatuh dan menjadi korban.

Kesadaran akan "juggling" di atas malah menambah kesulitan. Tarik-menarik justru lebih kuat karena ada kesadaran penuh tentang prioritas: mementingkan studi pribadi atau memprioritaskan pendidikan anak-anak, atau prioritas bekerja supaya dapat mendatangkan capital untuk memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak. Sulit. Misalnya, ketika mood menulis sedang bagus dan ingin kerja di kampus sampai larut malam, tapi hati tak tega rasanya. Panggilan telepon dari anak-anak yang sesekali menyapa dan menanyakan kapan pulang, membuat pikiran sudah melayang ke rumah. Apalagi mengingat kalau pulang larut, anak-anak suka tidur di ruang tamu, karena menunggu ibunya pulang. Berat rasanya kalau sedang dikejar deadline pekerjaan atau studi, tapi pada saat yang sama harus mengajarkan ngaji atau berkomunikasi dengan anak-anak dan suami.

Bisa saja kita berdalih, ah biar sekali-kali kan tak apa. Sekali-kali biar suami yang njemput anak-anak, sekali-kali anak-anak dibiarkan bermain xbox sepanjang hari, dan sesekali anak-anak makan junkfood. Tapi justru ini yang berbahaya. Karena virus 'sekali-kali' ini kalau sudah masuk ke software kita, pasti akan merusak semua program. Dan kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sudah jauh meninggalkan kesadaran akan juggling di atas.

Mungkin yang lebih merasakan kesulitan ini adalah ibu. Karena peran domestik ibu biasanya lebih dominan dibandingkan ayah apalagi dalam kultur patriarki yang kental. Enaknya hidup di Australia atau negara Barat lainnya adalah bias gender dan kultur patriarki tidak terlalu kuat. Tidak ada tetangga yang membicarakan jika yang menjemur pakaian adalah suami, bukan istri; tidak ada oang tua yang terganggu jika anak laki-lakinya masak untuk istri dan anak; tidak ada yang mencemooh jika suami menganggur atau penghasilannya lebih rendah dari istri. Mungkin saja di Indonesia sebenarnya cukup enak bagi perempuan karir karena banyak asisten yang bisa membantu sehingga waktu untuk keluarga dan kerja atau studi bisa maksimal. Ada nenek dan kakek yang bisa membantu menjaga cucu; ada babby sitter, ada pembantu rumah tangga, ada adik dan kakak yang bisa diminta tolong. Tapi tentu saja, nantinya akan timbal balik dimana waktu yang untuk anak-anak dan suami juga terkurangi oleh waktu untuk keluarga besar.

Kembali ke prioritas, apa pun prioritas yang dipilih itu pasti ada resikonya. Walau kita berupaya adil terhadap pekerjaan, studi dan keluarga, tentu tidak bisa adil sepenuhnya. Tetap saja tetap ada satu hal yang sering kita prioritaskan lebih dari yang lain. Ini seperti keadilan semu poligami, yang tentu saja tidak bisa sepenuhnya adil. Prioritas ini adalah pilihan, yang kadang kita tidak sadar ketika memilihnya atau meninggalkan prioritas yang lain. Kalau pilihan sadar sih tidak mengapa, karena nanti tidak perlu kaget dengan hasil dan resikonya, apalagi resiko yang negatif.

Jadi bagaimana sebaiknya membagi waktu? Satu hal yang sering kita dengar tentu kedisiplinan. Mungkin tepatnya disiplin yang berhati". Artinya, disiplin itu penting, tapi jangan terlalu ketat. Kalau terlaku ketat, terkadang menghilangkan substansi. Seperti waktu untuk belajar tidak perlu dipaksakan kalau pikiran sedang tidak ke studi tapi ke masalah anak. Mungkin terlihat agak aneh dengan "disiplin yang berhati" ini. Karena dalam kata lain berarti menjalankan disiplin yang tidak terlalu disiplin. hehe. Tapi ini hanya satu dari banyak cara untuk membagi waktu. Tiap orang pasti punya trik dan cara masing-masing dalam membagi waktu ini --kalau yang sadar. Kalau enggak, al-waqt ka al-saif. Waktu itu seperti mata pedang. Kalau kita tidak bisa mengendalikannya, kita akan tertebas oleh mata pedang itu.

Mungkin yang tepat itu bukan membagi waktu, tapi mengendalikan waktu...