Hi my name is Elkana. I am going to talk about legos and bionicles. Legos are toys you can make things with it.It can be in a box and in the box you can make a big toy to play with. bionicles are good because it is hard and it is betar than leogs. It is my creation
Tuesday, February 20, 2007
Saturday, February 17, 2007
Kaus Kaki Bolong...?
Heran deh, sejak Elka dan Farhan masuk SD kaus kaki kaki mereka cepat sekali rusak. Lubang-lubang berwarna coklat menganga di bagian bawah jari kaki seperti habis dipakai berjalan tanpa sepatu di tanah lapangan keras. Tidak saja kaus kaki, bahkan sepatu mereka juga memperlihatkan tanda-tanda yang sama. Bolong! di bagian telapak kaki depan, atau di bagian atas jari kaki. Bolongnya seperti kanfas rem yang sering direm mendadak. Gak mau kalah, celana panjang mereka juga bolong di bagian lutut. Awalnya sih terlihat beset-beset seperti kena amplas. Lama-lama robek dan mengangga lebar seperti tertawa mesem. Jadi keluarnya uang dollar kertas berwarna merah ($20) dan kuning ($50) membengkak tiga kali lipat untuk beli kaus kaki, sepatu dan celana panjang.
Sewaktu Farhan masih di tk dan Elka grade one di SD, tiap hari sepatu dan kaus kaki mereka berwarna coklat dan berlumuran pasir. Di TK dan sekolah memang ada pasir yang sengaja ditaro untuk main. Saya sampai khawatir pasir-pasir itu habis akibat terbawa sama anak-anak setiap hari. Apalagi Farhan, celana sekolahnya juga ikut full pasir. Jadi tiap pagi saya mbalik dan ngoyang-ngoyangin sepatu farhan supaya pasirnya jatuh. Amir juga paling gak sebulan sekali masukin sepatu-sepatu bergambar spiderman dan kura-kura ninja itu ke mesin cuci kami yang dahsyat, bisa mencuci apa pun yang masuk dengan baik. Ketika keduanya di SD (Farhan di prep dan elka grade 1), kasus bolong ini semakin menjadi-jadi. Bahkan rupanya celana bolong ini diproduksi seimbang antara elka dan farhan. Tapi, kasus pencurian pasir yang masuk dalam sepatu sudah tidak ada lagi.
Keheranan saya terjawab sdikit-sedikit waktu saya sering ke sekolah. Bolong yang menimpa kaus kaki, sepatu, dan celana itu akibat pola bermain mereka. Dalam permainan apapun yang mereka lakukan, elka-farhan menjatuhkan diri atau jatuh di atas karpet yang nyaman dengan kaki dan lutut mereka sebagai rem. Nah rata-rata 3 jam setiap hari mereka melakukan aktivitas fisik di sekolah dan aftercare program. Pantas saja kaus kaki bahkan sepatunya bolong pada bagian depan. Sejak itu elka dan farhan jarang sekali pake celana pendek, soalnya daripada lutut mereka yang jadi rem, mendingan celana panjang mereka yang jadi tumbal.
Lucunya mereka lebih menyukai celana bolong itu daripada celana barunya. "Bolong? who cares?" kata mereka.
Wednesday, February 07, 2007
Australia Day
Australia Day dirayakan setiap tanggal 26 January. Pada perayaan Australia day tahun 2007 ini Elka dan Farhan bersama Rifki ikut pawai Australia Day di city.
Pawai dan perayaannya bertemakan Australian Unity, intinya sih seperti Bhineka Tunggal Ika aja, menyatukan semua elemen masyarakat yang berasal dari beragam bangsa dan berkarya di berbagai bidang untuk punya semangat kesatuan. Misalnya di bawah ini dari komunitas Kroasia dan dari grup atletik.
Tapi yang paling banyak mendapat sorotan adalah komunitas bangsa atau katakan saja etnis, misalnya dari Italia, Cina, India, dan termasuk Indonesia. Dari pawai ini kelihatan yang cukup berhasil dalam beradaptasi 'menjadi Australia' adalah komunitas Cina. Lha wong walikota Melbourne yang sekarang juga keturunan Cina kok. Yang terlihat serba salah adalah dari negara-negara Islam seperti Pakistan dan Libanon. Apalagi yang terakhir ini sering memperlihatkan potensi rasial vis a vis kulit putih. Cukup kontras melihat barisan perwakilan dari Pakistan yang hanya sekitar enam orang saja dan barisan Indonesia yang tepat dibelakangnya. Pakistan hanya diwakili oleh laki-laki, berjenggot, tanpa kemeriahan pakaian adat (malah kesannya sedikit menakutkan begitu, karena menggambarkan kelompok Islam radikal...). Sedangkan barisan Indonesia begitu colourful, meriah, imbang antara laki-laki dan perempuan (bahkan lebih banyak perempuan). Tapi harus diapresiasi kalau kelompok-kelompok 'ragu' seperti Pakistan itu ada keinginan untuk berpawai dalam 'Australia bersatu', karena kalau tidak mungkin bisa menjadi contoh kasus clash civilization antara Islam dan Barat.
Nah Elka, Farhan dan Rifki termasuk barisan depan. Trims untuk kak Ning (ketua grup seni) yang mengatur pawai dan Nana (mamanya Rifki) yang mengajak dan mengenalkan saya dengan kak Ning. Berkat mereka, Elka dan Farhan bisa ikut pawai.
Setelah pawai selesai, Elka, Farhan dan Rifki menikmati berbagai hiburan. Mereka bermain bola pukul (wah gak tahu namanya apa ya...), jumping castle, naik jembatan pramuka, komidi putar, dan golf. Terakhir ketika pulang kami berfoto deh di depan fotonya si 'c'mon!,' bukan si Cemon tapi Hewitt bintang tenis Australia. Australia Day juga bertepatan dengan even tenis internasional yaitu Australia open. Jadi Melbourne ramai dengan turis. Kota Melbourne ini memang kota turis, dan semua even itu dikelola baik sekali untuk menyenangkan dan mendatangkan turis serta membuat penduduk Melbourne senang...
Happy Australia Day...
Tuesday, February 06, 2007
Sovereign Hil: Mengalami Sejarah...
Tanggal 27 January, sehari setelah Australia Day, kami jalan-jalan ke Sovereign Hill, di Ballarat, Melbourne. Ini benar-benar wisata sejarah di mana pengunjung diajak untuk mengalami sejarah itu sediri. Diantaranya
memakan makanan seperti tahun 1850 di Ballarat (permennya kami makan sekeluarga baru habis dalam satu hari...),
bersekolah dan belajar menulis huruf latin dengan pena (sebenarnya banyak sekolah negeri dan madrasah di Indonesia dalam kondisi seperti ini atau jauh lebih sederhana dari sekolah tahun 1850 ini),
dijaga oleh prajurit bergenderang dengan pakaian yang fancy,
memakai pakaian ala cowboy dan cowgirl (sampai pakaian dalam dan aksesoris seperti jam dan anting, sesuai dengan tahun 1850 itu),
mendulang emas (pasir-pasir dan debu emas masih banyak di temukan di aliran sungan kecil itu lho...),
dan pesta gelembung air (bubles)!
Kota ini dibangun kembali untuk tujuan wisata. Dan setiap harinya dibantu oleh sekitar 250 orang volunteer yang berperan sebagai penduduk sovereign hill tempo doeloe: ada yang mendulang emas, membuat permen, membuat panci dan piring, naik kereta kuda, dst. Tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, kelihatannya semua aspek bisa dijadikan uang. Mereka juga tidak lupa untuk memberi entartainment untuk anak-anak diantaranya ya gelembung air itu. Dan yang paling berkesan adalah 'gold mine tour' di mana kami masuk ke bawah tanah untuk melihat penggalian emas tempo dulu. Jaman dulu perempuan gak boleh masuk, tabu dan bisa membawa sial katanya. Ih orang Melbourne dulu percaya tahayul juga... Tapi memang dunia penambang itu sangat keras dengan resiko kehilangan nyawa yang sangat tinggi. Dulu anak-anak dipakai sebagai buruh kasar yang seharinya mendapat upah setengah upah orang dewasa.
Duh padahal di Indonesia kita punya banyak potensi wisata sejarah. Seandainya bisa dikelola seperti ini, pasti luar biasa.
Monday, February 05, 2007
from monday
by farhan
in Monday i went to School and it was lunch time. then i played with Fatima a little bit then wi line up in the lineing up area. then wi went up the stairs
Antara Pertemanan dan Kegiatan Anak-anak
Weekend kemarin saya agak kerepotan mengatur Elka dan Farhan karena teman-teman mereka. Bukan karena teman-temannya ini berumur 5-7 tahun lebih tua dari Elka (7) dan Farhan (6), tapi karena mereka keranjingan game (xbox, PS, computer games), dan cenderung tidak mau berbagi dalam permainan. Elka dan Farhan senang sekali dengan kehadiran teman-temannya ini sepanjang hari di rumah, tapi tidak berdaya jika mereka merasa dirugikan. Selain itu Elka-Farhan cenderung mendengar teman-temannya daripada mengikuti kegiatan keluarga. Kami jadi serba salah mengatur anak-anak dan kehilangan privasi di rumah sendiri.
Masalah privasi sudah bisa tertangani dengan memberikan aturan tegas tidak boleh masuk kamar. Anak-anak juga mengerti walaupun keberisikan mereka di ruang tamu tetap terdengar sampai kamar. Sebelumnya mereka tetap bermain di kamar walaupun saya atau Amir sedang bekerja atau istirahat di kamar yang sama. Ini memang karena kami terlalu terbuka. Jadi kebijakan mengenai privasi sudah ketok palu. Kemarin pun anak-anak beserta teman-temannya mau ketika saya minta untuk main di halaman atau di taman. Walaupun cuma 1 jam, lumayan lah bisa membuat mereka olah raga dan tidak menyentuh xbox.
Kami merasa serba salah mengatur Elka dan Farhan karena selama ini saya dan Amir berusaha keras untuk membatasi permainan game, entah itu di komputer maupun di xbox. Kalaupun kami bolehkan, keduanya dalam batas waktu yang rasional dan diarahkan untuk belajar membaca atau strategi menyelesaikan masalah. Sulitnya teman-teman besar Elka dan Farhan ini mereka yang hobi game. Jadi target utama datang ke rumah adalah komputer dan xbox. Tidak mungkin bagi kami untuk membuang komputer dan xbox dari kamus anak-anak hanya karena pengaruh teman-temannya. Toh Elka dan Farhan sudah bisa belajar mencari tahu sesuatu melalui internet termasuk menulis di blog. Selain pengaruh game mania, teman-teman mereka sering memonopoli permainan dan tidak mau berbagi. Saya sering terganggu karena tangisan dan komplain Elka dan Farhan ditujukan ke saya akibat tidak dapat giliran main. Sulitnya Elka dan Farhan terkadang kurang mendukung kalau saya bersikap tegas, karena mereka khawatir tidak mendapat teman. Sampai pernah saya terpaksa membiarkan seorang anak untuk main komputer di rumah sedangkan saya, Elka dan Farhan pergi bersepeda dan belanja!
Saya baru menghayati mengapa sebagian orang tua suka membatasi pergaulan anak-anaknya, dengan cara yang langsung atau tidak langsung. Mungkin cara tidak langsung lebih nyaman dan bisa tetap menjaga hubungan baik berteman. Caranya ya dengan memberikan anak berbagai macam kesibukan. Jadi sosialisasi dengan teman-teman yang kurang sejalan dengan kegiatan mereka, akan berkurang dengan sendirinya.
Untuk ke depan, saya akan mencoba kedisiplinan waktu dan ketegasan, tapi diimbangi dengan dua hal: pemberian poin bintang sebagai hadiah dan memberikan lebih banyak kegiatan ketika weekend. Mengenai disiplin dan ketegasan, pasti akan ada kesan mama cerewet, mengatur-atur terus, atau ini gak boleh itu gak boleh. Saya memang khawatir kesan itu muncul sehingga mereka tidak mau menganggap saya sebagai teman. Jadi saya imbangi dengan lebih generous memberi poin bintang. Dan tentu saja memberi kegiatan reguler buat anak-anak, seperti ngaji Iqra, berenang, main bulu tangkis, dan belanja. Bisa saja dalam beberapa kegiatan teman-teman mereka ikut serta. Tapi jelas kami yang leading, bukan anak-anak. Hmm coba ah saya diskusiin dengan Elka dan Farhan...
Setelah saya pikir, rupanya memang mau gak mau orang tua harus memberikan perhatian dan waktu untuk anak-anak, kalau mau anaknya menjadi sesuai dengan keinginan....
Sunday, February 04, 2007
about 50 stars
by elkana
Me and farhan and my mum made a promise we can get a toy or a game when we get 50 stars.
We can trade our stars cheap things and we could lose stars.If we want to get 50 stars we can do the dishes make the bed pack up toy serve food to mum and dad help people teach others.
Trading Stars
Two weeks ago Amir and I bought a quite expensive lego for Elka and Farhan. We could not avoid that because we promise that they could have presents they like if they get 50 stars. Each of them got 50 stars after collecting them around a month and a half from activities such as having shower, packing up rooms, no playing xbox, reading iqra books, and finishing their dinner or lunch.
Our effort to save money by preventing their wishes to buy toys all the time is fail. Because this way only accummulates their dreams to have toys. And this way could not eliminate their requests to have treats such as ice creams, fried chickens, burgers, and other junk food.
We have a new strategy namely trading stars. This time they can loose their stars and trade them with toys or junk food they like. One star equivalent to $1. I am happy that both Elka and Farhan agree with this new plan. They said its fair.
Yesterday both Elka and Farhan lose several stars they had for having fried chicken and pasta from their favourite restaurants. I hope this plan will run well.
Saturday, February 03, 2007
Happy and Messy
Thursday, January 25, 2007
PhD supervision
I am quite happy that finally the institute where I study does something regarding student supervision. I did not really care about supervision actually, from the very beginning of my Ph.D candidature. My principal supervisor resigned before I did my confirmation examination. I was like in the middle of nowhere. It was terrible situation because I came to this institute to learn from this person expertise. I could not blame the resigned supervisor. If I were in his position I might do the same as he did. What made me skeptical about supervision was that the institute was powerless and could not help me to continue supervision with the resigned supervisor. Other students and I were encouraged to choose someone from the institute as our formal supervisors; where actually has very limited resources.
After three years of my study, it seems that these formal supervisors were too kind to me; they never want to disturb my enjoyable study. I did two fieldworks in Indonesia and an archive research in the Netherlands, and went from a conference to a conference (from East to West, North to South). Last year I wrote only one very rough chapter that I was not satisfied at all. However, my supervisors neither gave complaints nor comments on what I wrote and I did. I think my supervisors are too kind and see me with too high standard so I did not really need ‘help.’ Or they just want to let me being supervised informally with my resigned supervisor, who is my shadow supervisor. This shadow supervisor is very helpful: reading my chapters, reports and essays; giving comments, references, and suggestion too. The only problem is he is too far away. I always break my promise to send him a revised chapter or even a progress email every month.
I know this is certainly unusual and bad direction. But I did not want to make a pressure on my recent supervisors too. I am doing my own project research, not them. So, I feel I get a freedom to do what I want to do. What a positive thinking! After three years I would say that I enjoyed of having not enough supervision.
Now, the institute wanted to encourage these supervisors to be more helpful. I welcome. Its good deed, why not supporting it? In fact, I do need help that urge me to write my thesis chapters. I am looking forward to have a different way to enjoying my phd.
By this curhat I just one to give advice. For those of you want to take PhD studies, please choose the right supervisor. If you get the wrong one, keep cool and enjoy it! :)
Saturday, January 20, 2007
Membagi Waktu
Rupanya sulit sekali. Tidak semudah membaca teori tentang membagi waktu. Karena waktu itu abstrak. Dan sesuatu yang diberikan waktu itu juga relatif. Mungkin itu yang membuatnya sulit. Istilah yang sering dipakai adalah juggling between, works, study, and family. Seperti badut yang memainkan bola di udara, dan berupaya menjaga keseimbangan supaya bola-bola itu tertangani semua, tidak ada yang jatuh dan menjadi korban.
Kesadaran akan "juggling" di atas malah menambah kesulitan. Tarik-menarik justru lebih kuat karena ada kesadaran penuh tentang prioritas: mementingkan studi pribadi atau memprioritaskan pendidikan anak-anak, atau prioritas bekerja supaya dapat mendatangkan capital untuk memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak. Sulit. Misalnya, ketika mood menulis sedang bagus dan ingin kerja di kampus sampai larut malam, tapi hati tak tega rasanya. Panggilan telepon dari anak-anak yang sesekali menyapa dan menanyakan kapan pulang, membuat pikiran sudah melayang ke rumah. Apalagi mengingat kalau pulang larut, anak-anak suka tidur di ruang tamu, karena menunggu ibunya pulang. Berat rasanya kalau sedang dikejar deadline pekerjaan atau studi, tapi pada saat yang sama harus mengajarkan ngaji atau berkomunikasi dengan anak-anak dan suami.
Bisa saja kita berdalih, ah biar sekali-kali kan tak apa. Sekali-kali biar suami yang njemput anak-anak, sekali-kali anak-anak dibiarkan bermain xbox sepanjang hari, dan sesekali anak-anak makan junkfood. Tapi justru ini yang berbahaya. Karena virus 'sekali-kali' ini kalau sudah masuk ke software kita, pasti akan merusak semua program. Dan kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sudah jauh meninggalkan kesadaran akan juggling di atas.
Mungkin yang lebih merasakan kesulitan ini adalah ibu. Karena peran domestik ibu biasanya lebih dominan dibandingkan ayah apalagi dalam kultur patriarki yang kental. Enaknya hidup di Australia atau negara Barat lainnya adalah bias gender dan kultur patriarki tidak terlalu kuat. Tidak ada tetangga yang membicarakan jika yang menjemur pakaian adalah suami, bukan istri; tidak ada oang tua yang terganggu jika anak laki-lakinya masak untuk istri dan anak; tidak ada yang mencemooh jika suami menganggur atau penghasilannya lebih rendah dari istri. Mungkin saja di Indonesia sebenarnya cukup enak bagi perempuan karir karena banyak asisten yang bisa membantu sehingga waktu untuk keluarga dan kerja atau studi bisa maksimal. Ada nenek dan kakek yang bisa membantu menjaga cucu; ada babby sitter, ada pembantu rumah tangga, ada adik dan kakak yang bisa diminta tolong. Tapi tentu saja, nantinya akan timbal balik dimana waktu yang untuk anak-anak dan suami juga terkurangi oleh waktu untuk keluarga besar.
Kembali ke prioritas, apa pun prioritas yang dipilih itu pasti ada resikonya. Walau kita berupaya adil terhadap pekerjaan, studi dan keluarga, tentu tidak bisa adil sepenuhnya. Tetap saja tetap ada satu hal yang sering kita prioritaskan lebih dari yang lain. Ini seperti keadilan semu poligami, yang tentu saja tidak bisa sepenuhnya adil. Prioritas ini adalah pilihan, yang kadang kita tidak sadar ketika memilihnya atau meninggalkan prioritas yang lain. Kalau pilihan sadar sih tidak mengapa, karena nanti tidak perlu kaget dengan hasil dan resikonya, apalagi resiko yang negatif.
Jadi bagaimana sebaiknya membagi waktu? Satu hal yang sering kita dengar tentu kedisiplinan. Mungkin tepatnya disiplin yang berhati". Artinya, disiplin itu penting, tapi jangan terlalu ketat. Kalau terlaku ketat, terkadang menghilangkan substansi. Seperti waktu untuk belajar tidak perlu dipaksakan kalau pikiran sedang tidak ke studi tapi ke masalah anak. Mungkin terlihat agak aneh dengan "disiplin yang berhati" ini. Karena dalam kata lain berarti menjalankan disiplin yang tidak terlalu disiplin. hehe. Tapi ini hanya satu dari banyak cara untuk membagi waktu. Tiap orang pasti punya trik dan cara masing-masing dalam membagi waktu ini --kalau yang sadar. Kalau enggak, al-waqt ka al-saif. Waktu itu seperti mata pedang. Kalau kita tidak bisa mengendalikannya, kita akan tertebas oleh mata pedang itu.
Mungkin yang tepat itu bukan membagi waktu, tapi mengendalikan waktu...
Saturday, January 13, 2007
sydney new years day
Ternyata, rumput tetangga tidak lebih indah dari rumput sendiri...
Nah, kaitannya dengan liburan kami sekeluarga di Sydney pada akhir tahun 2006 sampai tahun baru yang lalu. Memang sih kami ubek-ubek Sydney cuma 4 hari. Waktu yang tidak lama untuk bisa memberikan judgement yang obyektif. Tapi dari hasil 'observasi' singkat ini saya berpendapat bahwa dalam hal turisme kota Melbourne itu lebih baik dari kota Sydney. Penilaian ini bukan membandingkan antara St. Kilda dengan Bondi Beach misalnya, atau membandingkan Circular Quay dengan Federation Square. Tentu saja, masing-masing kota punya keunikan sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan. Tapi menurut saya kota Melbourne lebih baik dari kota Sydney dalam hal:
1. Keramahan-tamahan komunitasnya khususnya orang yang bertugas di publik service. Jarang sekali kami temui misalnya petugas stasiun dan supir bus yang baik dan mau sabar menghadapi turis yang tidak tahu banyak mengenai publik transport. Di Melbourne, di tempat-tempat yang ramai baik di jalan, stasiun kereta dan pemberhentian tram, ada petugas yang memberi informasi mengenai publik transport dan ada pula petugas yang bisa memberi informasi mengenai tempat-tempat wisata di Melbourne. Para petugas ini sangat helpful. Kalau melihat seseorang yang bingung atau lama ngelihatin peta, dia pasti segera datang dan bertanya "May I help you?"
2. Mungkin ini ada hubungannya dengan keramahan di atas, tapi bedanya ini adalah budaya di jalan. Jika di Melbourne, pejalan kaki itu dihargai sekali, di kota Sydney . Memang di Sydney aturannya juga begitu, tapi bayangkan siapa yang tidak senewen kalau kita lagi nyebrang jalan tapi didengarkan suara gas bus dan mobil yang meraung-raung tidak sabar mau cepat jalan dan 'meminta' kita supaya cepat nyebrang. Belum sampai kaki di sebrang jalan, bus sudah jalan di belakang kita. Mengenai bus ini, saya dan Amir sepakat kalau gaya para supir bus ini tak jauh beda dengan supir metro mini di Jakarta! Ini memang bus regular. Tapi bus regular di Melbourne jauh dari kultur kebut-kebutan dan tidak sabar seperti di Sydney.
3. Tidak ada yang gratis! Libur tahun baru, di Sydney cuma ada diskon publik transport. Di Melbourne, beberapa hari libur seperti Natal dan Tahun Baru, public trasport itu free! Setiap hari ada bus turis gratis untuk keliling kota Melbourne. Ada juga tram yang disebut city circle yang kerjanya keliling kota, juga gratis. Selain Melbourne itu lebih generous, masyarakat juga di-encourage supaya naik public transport. Dan tentu saja ada diskonnya. Misalnya ada tiket sunday saver yang bisa dipakai untuk bepergian keliling kota Melbourne (unlimited travel) baik itu pake tram, kereta api, maupun bus pada hari minggu dengan hanya membayar $2.50.
4. Kebersihan kota. Masih di airport Sydney, ketika kami keluar untuk antri taxi, kami sudah disuguhi dengan bau kencing yang menyengat. Di luar airport pun pemandangannya tidak menyegarkan. Yang terlihat cuma dinding-dinding bangunan parkir yang suram tanpa landcape taman yang indah. Perjalanan dari airport ke suburb dan city disuguhi dengan pemandangan yang suram. Beda dengan airport Melbourne. Lingkungan airport cukup menyegarkan dan perjalanan dari airport ke city juga disuguhi pemandangan yang menyenangkan.
Jadi, saya baru mengerti, kenapa kawan saya Eka Sri Mulyani yang tinggal di Sydney begitu antusias dan terkagum-kagum ketika datang ke Melbourne. Katanya "this is the real Australia..." hehe. Soalnya dia bilang kota Sydney itu apa bedanya dengan kota Jakarta yang penuh dengan bangunan-bangunan tinggi. Sedangkan di Melbourne bangunan bergaya victorian itu bisa banyak dilihat dan masih terawat baik.
Dari hasil jalan-jalan ke Sydney, saya pikir kalo Melbourne ini kota turis yang luar biasa. Lebih hijau, ramah, dan generous! Tentu saja ini dari kacamata turis.
Saya mau menikmati Melbourne ah musim panas ini...
Wednesday, January 03, 2007
Hukuman Mati Saddam: Sebuah Kesalahan Besar
Akhirnya Saddam digantung mati sehari menjelang awal tahun 2007. Saddam menghadapi kematiannya dengan berani. Ia tidak mau memakai tutup kepala sebelum digantung. Bahkan ketika algojo memaki-makinya dan memuji muji pemimpin Syiah, Saddam masih sempat membalas makian itu. Dan akhirnya, kalimat syahadat yang diucapkan Saddam terhenti, menandakan ruhnya sudah meninggalkan jasad.
Kematian yang tragis. Mungkin itu yang harus dibayar oleh Saddam atas kekejaman dia ketika menjadi presiden Irak. Tapi apakah dengan kematian Saddam perang Sunni-Syiah akan berhenti? Tidak. Justru kematian Saddam menjadi bahan bakar utama. Apalagi proses peradilannya tidak transparan dan adil.
Banyak orang berpikir, kekejaman harus dibayar dengan kekejaman. Apalagi ada ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa penghilangan mata harus dibayar dengan mata, tangan dibayar dengan tangan, dan jiwa dengan jiwa. Dan karenanya hukuman mati bagi Saddam adalah balasan atas pembunuhan yang dilakukan Saddam. Kelihatannya adil, tapi sebenarnya itu hanyalah keadilan semu. Dan ayat Qur’an yang menyatakan “mata dibayar mata” dst itu haruslah dibaca sebagai alternatif terakhir. Bukan satu-satunya cara memberi hukuman atau malah cara pertama memberi hukuman. Alternatif pertama adalah permintaan maaf dan musyawarah. Selayaknya keluarga yang dibunuh bisa bermusyawarah dari yang paling ringan yaitu menerima permintaan maaf sampai meminta berbagai macam konsesi (uang dan benda berharga misalnya). Toh jiwa yang sudah melayang tidak bisa digantikan lagi.
Tapi kelihatannya alternative terakhir itu sudah menjadi pilihan pertama. Apalagi dalam kasus Saddam. Pengadilan itu disitir oleh keinginan Bush untuk menjalankan dendam pribadinya menghilangkan nyawa Saddam melalui tangan pengadilan Irak.
Ada dua kesalahan yang tidak disadari Irak dengan digantungnya Saddam. Pertama, Amerika benar-benar sudah menjajah dan menyetir Irak sesuai dengan keinginan politik Amerika, entah itu dendam pribadi Bush maupun dollar yang didapat dari kekayaan minyak Irak. Kedua, perang saudara antara Sunni dan Syiah akan semakin bergejolak karena kematian Saddam merupakan minyak panas yang akan membakar kemarahan pihak Sunni terhadap Syiah.
Inikah yang disebut demokrasi? Apakah masyarakat tertentu harus harus dipimpin oleh rejim diktator biar negara sejahtera? Apakah kesejahteraan Irak sebelum ini hanyalah kesejahteraan semu sebagaimana Indonesia dibawah rejim Orde Baru? Sebegitu kuatkah keinginan power dan harta itu? Entahlah. Yang diambang mata hanyalah dendam kesumat yang sebenanya tidak bisa menghentikan perang. Jika dendam dibalas dendam, kekerasan dibalas kekerasan, perang dibalas perang, apa bedanya Bush dengan Saddam? Dan kelihatannya dunia akan hancur oleh manusia sendiri karena nantinya nuklir dibalas dengan nuklir. Bisa jadi takdir kiamat itu ada di tangan manusia….
Wallahu a'lam
Friday, December 15, 2006
Profesionalisme Amil Zakat
Amelia Fauzia*
Amil zakat merupakan profesi yang serba salah, seperti halnya seorang kyai atau da’i. Di satu sisi, mereka diminta supaya bekerja secara profesional tapi di lain sisi mereka masih ditabukan untuk meminta bayaran. Karena itulah maka perzakatan di negeri kita selama berabad-abad tidak berkembang salah satunya akibat kerja amil yang dijalankan secara sambilan. Dari masa kerajaan Islam sampai abad ke sembilanbelas kondisi keamilan tidak berkembang lebih baik, kecuali awal abad kedua puluh dengan mulai beralihnya pemberian sumbangan langsung kepada fakir miskin dengan pemberian ke organisasi yang dimotori oleh Muhammadiyah. Berkat momentum Dompet Dhuafa dan kejatuhan Orde Baru lembaga amil sekarang berkembang lebih maju dengan terbentuknya institusi amil zakat atau institusi filantropi yang menghimpun dan mendayagunakan berbagai potensi kedermawanan sosial Islam.
Semangat kehati-hatian dan pengawasan terhadap lembaga amil zakat sangat perlu seperti yang ditulis oleh Abd. Salam Nawawi dengan judul ”Mewaspadai Penyimpangan Amil Zakat” (Jawa Pos 22/10/06). Namun kehati-hatian itu selayaknya diarahkan untuk lebih memprofesionalisasikan institusi amil zakat termasuk dalam pendayagunaan dana zakat.
Bentuk Amil Zakat
Di Indonesia, setidaknya ada tiga bentuk amil (pengelola zakat), yaitu amil individual, amil kepanitiaan, dan amil kelembagaan. Amil individual atau perorangan mengemban amanat dari masyarakat untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat atas dasar integritas pribadinya serta pengetahuannya tentang hukum Islam. Amil individual ini berperan cukup penting sejak abad ketigabelas dan diperankan oleh fungsionaris agama Islam seperti yang biasa disebut, ustadz, kyai, teungku, dan kayim. Saat ini amil individual masih berfungsi di daerah pedesaan, bahkan di beberapa tempat ada yang menjadi jabatan seumur hidup. Akibat kemajuan dan kompleksitas masyarakat terbentuklah amil kepanitiaan dan kelembagaan. Amil kepanitiaan ini biasanya dibentuk di masjid, sekolah, lingkungan RT/RW, dan tempat kerja. Keberadaan amil kepanitiaan hanya temporer khususnya untuk mengumpulkan zakat fitrah menjelang Idul Fitri. Amil kelembagaan adalah institusi yang mengelola dana zakat dan dana filantropi (kedermawanan sosial) Islam lainnya seperti sedekah dan wakaf. Ada dua jenis, yaitu institusi amil atau filantropi Islam yang ada dibawah pemerintah dan disebut Badan Amil Zakat (BAZ), dan institusi amil non pemerintah yang disebut Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Lembaga amil non pemerintah mendapat berkembang pesat khususnya di wilayah urban. Dalam perjalanannya, perkembangan LAZ jauh melebihi BAZ dari sisi penghimpunan, pendayagunaan, dan transparansi, walaupun ada beberapa BAZ pemerintah daerah yang cukup baik seperti Bazis DKI Jakarta dan BAZ Sumut.
Kinerja dan Hak Amil
Benar bahwa amil adalah mustahik (orang yang berhak menerima zakat) dan sekaligus juga muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat) khususnya ketika amil merupakan orang yang mampu secara ekonomi. Gaji atau hak amil ini merupakan konsekuensi logis atas kerja seseorang amil yang ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Taubah ayat 60.
Sistem gaji dan peningkatan status amil sebagai salah satu profesi muncul akibat kritik terhadap sejarah panjang lembaga keamilan yang mayoritas ‘hidup enggan mati tak mau’ karena diurus paruh waktu dan tanpa administrasi yang baik. Dilihat dari perkembangan sejarah, kinerja amil sekarang sudah lebih baik. Pada abad ke sembilanbelas, Snouck Hurgronje (Penasihat urusan Pribumi) memaklumi para amil yang mengambil porsi pembagian zakat cukup banyak karena mereka adalah mustahik atas dasar kerja ke-amilannya dan statusnya sebagai orang miskin. Kondisi ini berjalan tanpa ada pengawasan yang memadai dari pemerintah. Badan amil yang kemudian dibentuk pemerintah mulai tahun 1984 pun tidak berfungsi maksimal karena masih dikerjakan secara paruh waktu. Institusi amil yang modern dan profesional –yang disemai oleh organisasi sosial Islam modern—akhirnya berkembang mulai tahun 90-an dimotori oleh Dompet Dhuafa. Dari sinilah maka wacana profesi amil bergulir yang menuntut amil bekerja secara profesional agar dana filantropi dapat lebih bermanfaat.
Penulis tidak memungkiri jika misalnya terdapat institusi amil zakat yang kinerjanya tidak maksimal tapi menuntut gaji yang tinggi. Sejak masa kolonial kritik terhadap kinerja dan rendahnya transparansi amil (individual) sudah ada. Akan tetapi tidak dapat dinafikan bahwa mayoritas institusi-institusi filantropi Islam khususnya LAZ yang berkiprah saat ini bekerja dengan baik. Bahkan, hampir semua LAZ didirikan atas dasar idealisme yang menguras tenaga, pikiran serta kocek para pegiatnya. Misalnya, donatur-donatur pertama Dompet Dhuafa tak lain adalah para pendiri Dompet Dhuafa itu sendiri. Begitu pula yang terjadi pada lembaga lain seperti Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), Portal Infaq, dan Lembaga Wakaf Zakat Salman yang pada tahun-tahun awal pendiriannya para amil tidak mau mengambil hak mereka karena alasan kepentingan lembaga yang lebih besar.
Dalam lembaga amil, tidak bisa dikatakan bahwa amil menentukan gaji mereka dengan seenaknya. Lembaga amil memiliki mekanisme pengawasan, transparansi dan akuntabilitas yang relatif baik. Organisasi amil diawasi oleh Dewan Pengawas, Dewan Syari’ah, serta oleh pemerintah dan masyarakat. Prosentase 1/8 (salah satu ijtihad yang dipakai oleh sebagian institusi filantropi) adalah suatu kehati-hatian dalam menentukan dana yang bisa digunakan untuk biaya operasional dan upah amil. Tanpa dana operasional ini, pendayagunaan dana filantropi tidak akan maksimal. Banyak pula institusi amil yang mengambil biaya operasional dari uang sedekah, bukan uang zakat, sehingga otomatis prosentase seperdelapan dari dana zakat tidak berlaku.
Badan Amil yang ada di bawah pemerintah (BAZ) memang memiliki cerita yang sedikit berbeda dengan LAZ di atas. Staf BAZ menerima gaji dari pemerintah daerah karena status mereka sebagai pegawai pemda. Dalam perjalanannya ada BAZ yang tetap mengambil hak amil (karena memiliki pegawai honorer), namun ada juga BAZ yang tidak mengambil hak amil, contohnya Bazis DKI Jakarta, karena dibantu dari APBD.
Pendayagunaan Uang Zakat
Pendayagunaan zakat dan dana filantropi lainnya lahir dari kesadaran akan kegagalan fungsi filantropi Islam yang ternyata tidak bisa mengangkat umat Islam dari kemiskinan. Sebagian besar dana zakat dan sedekah digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup jangka pendek yang konsumtif dan hanya sedikit yang digunakan untuk pemberdayaan masyarakat jangka panjang dan produktif. Tanpa pendayagunaan yang terencana dan maksimal maka dana filantropi hanya menjadi sia-sia.
Jika ada sistem pendayagunaan yang kurang baik, bukan berarti ide pendayagunaan itu salah, tapi sistemnya yang harus diperbaiki. Pemanfaatan dana filantropi Islam yang dilakukan oleh beberapa LAZ nasional sudah cukup kreatif dan sebagian sudah mengarah pada pemberdayaan masyarakat dan pengentasan akar masalah kemiskinan seperti program mikro kredit, pelayanan kesehatan gratis, penanganan gizi buruk, peningkatan SDM melalui beasiswa pendidikan dan training, dan advokasi TKI.
Pengawasan bukan Campur Tangan
Penyimpangan amil bisa saja terjadi; amil toh juga manusia. Oleh karenanya yang dibutuhkan adalah pengawasan baik dari internal lembaga itu sendiri (Dewan Pengawas) maupun eksternal dari pemerintah, dan masyarakat khususnya donatur. Lembaga keamilan harus diarahkan untuk transparan dan akuntabel atas kegiatannya. Dengan transparansi dan akuntabilitas yang dimiliki lembaga keamilan, penyimpangan amil dan lembaga keamilan bisa dihindari atau dikurangi.
Lembaga amil seyogyanya dibiarkan memiliki kreativitas sendiri untuk mengelola lembaganya –seperti saat ini -- sejauh itu masih dalam koridor undang-undang. Iklim fastabiqul khairat (berlomba menuju kebaikan) yang sudah ada seharusnya difasilitasi oleh pemerintah misalnya dengan pemberian insentif bagi pembayar zakat. Campur tangan pemerintah yang berlebihan akan membawa efek negatif bagi perkembangan lembaga keamilan dan sebaiknya dihindarkan. Seyogyanya peraturan ‘zakat sebagai pengurang pajak’ --yang belum terlihat implementasinya-- itu yang lebih dahulu dijalankan dengan serius.
Tanpa sistem managemen yang baik dan penggajian yang professional institusi filantropi Islam tidak akan memiliki sumber daya manusia yang bagus yang bisa mengelola dana filantropi Islam secara maksimal. Pendayagunaan zakat merupakan keharusan; karena amanah untuk berpihak kepada fakir miskin bukan hanya sekedar mendistribusikan dana sehingga habis tapi mendayagunakannya untuk menghilangkan akar kemiskinan.
-------------
* Peneliti pada Center for the Study of Religion and Culture, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Cycling on Smoky Melbourne
It was so fun!
Sunday, December 10, 2006
Wednesday, December 06, 2006
Merayakan Hari Relawan Sedunia
Kemarin (5 Des 06) saya dan suami merayakan international volunteer day bersama dengan komunitas Australian Volunteer International (AVI) di Melbourne dengan acara yang berjudul Global Village Festival. Walaupun suasana global village-nya masih kurang terasa, tapi acara cukup meriah dengan musik/tari dari Afrika dan Timor, dan beragam komunitas yang hadir. Dimitri, CEO AVI, bercerita bahwa AVI tahun lalu sudah mengirimkan 750an relawan ke 46 negara. Suatu prestasi yang harus diapresiasi.
Awalnya saya kira, menjadi relawan (volunteering) tidak terlalu populer di Australia, dibandingkan dengan bersedekah uang. Apalagi di Australia begitu banyak lembaga filantropi (kedermawanan sosial) dari yang sekup lokal, nasional, sampai internasional. Tapi rupanya saya salah. Volunteering bagi masyarakat Australia ternyata cukup populer dan membudaya di masyarakat. Bentuk kesukarelawanan pun beragam, mulai dari kerja gotong royong, mengajar tanpa bayaran, sampai bekerja di organisasi non profit dalam dan luar negeri. AVI fokus pada yang terakhir, yaitu mengirim relawan untuk bekerja di lembaga-lembaga khususnya di negara-negara berkembang. Volunteering AVI lebih banyak diarahkan untuk sharing pengetahuan, teknologi dan keterampilan yang relawan miliki. relawan dengan harapan relawan akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kultur dan budaya tertentu.
Volunteering di sini saya rasakan sebagai benar-benar suatu pilihan. Tidak perduli apakah kerja sukarela itu hanya sekedar kerja gotong royong di sekolah. Tidak ada paksaan sosial dan tidak ada stigma bahwa mereka yang ikut kerja sukarela adalah lebih baik dari yang tidak ikut. Namun tentu saja, selalu ada apresiasi bagi mereka yang mau menjadi sukarelawan dari yang sekedar kerja gotong royong tadi terlebih lagi bagi mereka yang mau mengabdi untuk bekerja sebagai relawan bertahun-tahun. Apalagi jika mau jadi relawan di negara-negara berkembang. Apresiasi ini bukan hanya dari komunitas, tapi juga dari pemerintah Australia diantaranya dengan memberikan insentif, tax deduction, dan menyediakan fasilitas dan prasarana untuk meningkatkan kegiatan kesukarelawanan.
Para relawan memiliki banyak motivasi untuk kerja sosial, dari yang sekedar mencari pengalaman, menambah pengetahuan, sampai kepada kesadaran akan tanggung jawab sosial. Para relawan AVI yang saya temui sebagian adalah profesional yang dengan sadar ingin melakukan kerja relawan. Beberapa mantan relawan merasa bahwa kerja sukarela yang mereka lakukan itu benar-benar memberi manfaat yang besar, tidak hanya dalam hal pengetahuan dan pengalaman, tapi juga rupanya karir mereka. Peningkatan karir? Saya kira hal ini bisa saja karena networking yang bagus dari kiprah selama beberapa tahun di luar negeri. Dan saya pun menyaksikan beberapa mantan relawan AVI yang berkiprah di Indonesia kemudian memiliki karir yang bagus.
Apa di Indonesia juga begitu? Memang konteks menjadi relawan di Indoneisa ada sedikit berbeda dengan relawan di Australia. Ada sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah bahwa kedermawanan sosial termasuk kesukarelawanan sudah menjadi kultur di Indonesia. Karenanya, --ini sisi negatifnya-- kerja volunter seperti gotong royong, mengajar tanpa bayaran, membantu tenaga, pikiran untuk organisasi bahkan menyumbangkan uang untuk kegiatan organisasi, sepertinya juga dianggap sebagai hal biasa. Karena itu apresiasi masyarakat kurang dan apresiasi pemerintah hampir tidak ada. Padahal peran para relawan ini luar biasa yang baru terlihat ketika penanganan bencana seperti Tsunami di Aceh 2004 dan Gempa di Yogya dan Jateng 2006. Mereka seperti pahlawan tanpa tanda jasa...
Khususnya untuk teman-teman para relawan, serta aktivis dan pemerhati filantropi,
Selamat Hari Relawan Sedunia!
Amelia