Monday, May 21, 2007

satu menit saja....

Sore yang indah, walau sedikit dingin di Melbourne. Saya mengikuti Elka, Farhan dan Rifqi bermain di taman seberang rumah. Suasana begitu ceria dan riang. Angin dingin yang bertiup kencang tak diindahkan. Saya sibuk merapatkan syal sedangkan anak-anak berlarian dan melepaskan jaket mereka. Panas katanya.

Suasana berubah ketika seorang ibu berjalan melintasi taman. Ibu muda itu asik berbicara di telpon genggam, sedangkan anak perempuan berumur sekitar 2 tahun berlari menuju ayunan. Anak perempuan itu berteriak senang "swing, swing..." dengan suara yang masih cadel. Ia berdiri di depan ayunan dan berusaha naik. Tapi apa daya, kakinya yang mungil dan pendek tidak bisa menurutkan kehendaknya untuk duduk diatas ayunan. Dengan sabarnya, ia menunggu ibunya yang masih asik menelpon di dekat ayunan. Bahasa tubuhnya memperlihatkan gadis kecil ini ingin sekali naik ayunan.

Setelah percakapan telpon selesai, si ibu kelihatannya mengajak anaknya segera pergi. Saya hanya bisa mengira-ngira karena mereka berbicara bahasa India. Terlihat si gadis kecil menolak dengan terus menerus menyebut "swing" dan memegang erat tali serta kursi ayunan di depannya. Suara si ibu meninggi dan membentak, untuk segera pulang. Si kecil tidak mengindahkan dengan terus merengek-rengek supaya bisa naik ayunan.

Si ibu berjalan menjauhi taman dengan berbicara keras dan mengancam untuk meninggalkan anaknya. Gadis kecil itu tidak goyah, ia diam, dan tetap memegang ayunan. Semakin jauh si ibu berjalan dengan suaranya yang mengancam. Gadis kecil yang malang bertahan dengan keinginannya. Ia tahu, si ibu tidak akan meninggalkannya. Dari balik pagar, si ibu menunggu. Bebeapa saat si ibu kembali menuju ayunan karena anaknya tak bergeming untuk pulang bersamanya.

Seperti bisa saya duga, dengan paksa gadis malang itu ditarik dan digendong oleh ibunya. Tentu saja ia menangis keras. Saya berharap sekali, gadis itu menangis yang keras dan kemudian ibunya akan berubah pikiran untuk memberinya waktu bermain ayunan. Tapi saya tahu, itu tidak akan terjadi. Suara tangisan masih terdengar walau keduanya sudah hilang dari pandangan saya.

Saya jadi termenung. Bisa jadi saya atau kita orang tua bersikap seperti ibu itu. Betapa egoisnya. Ia menelpon lama dan tak memperhatikan anaknya. Tapi ketika si anak meminta waktu sebentar saja untuk main ayunan, ia tidak berikan. Bisa jadi ibu itu tergesa. Tapi saya tidak melihat sama sekali alasan untuk tergesa ketika itu. Kenapa dia bisa menelpon selama lima menit di taman tapi tidak memberikan waktu kepada anaknya untuk bermain bahkan satu menit saja? Padahal dengan beradu argumen dan bermain sandiwara waktunya malah berbuang banyak. Belum lagi waktu yang terbuang untuk mendiamkan anaknya yang menangis kecewa sepanjang perjalanan pulang. Seandainya dia membantu anaknya untuk main ayunan --walaupun sambil menelpon-- atau memberi waktu bermain satu menit saja, mungkin perasaan anak itu tidak terluka. Jika moment satu menit tidak pernah ada dan selalu dilewatkan, bisa dibayangkan bagaimana anak kita tumbuh besar dengan memendam kemarahan, dendam, kesedihan, dibawah kasih sayang orang tuanya yang diktator....

No comments: