Monday, May 22, 2006

Paw paw?

Akhir-akhir ini Elkana dan Farhan lagi rajin masak dan bikin kue. Tentu saja mamanya harus juga berkecimpung untuk membantu hal-hal yang mereka tidak bisa lakukan. Saya benar-benar menikmati saat-saat itu, walaupun kerja keras harus dilakukan untuk membersihkan dapur yang berantakan seperti kapal pecah.

Minggu lalu Elka membawa pulang newsletter dari sekolah yang ada resep membuat Fruit Loaf. Setelah kami baca bersama resep itu, rupanya ada satu bahan yang kami tidak tahu, namanya paw-paw. Elka sama Farhan sampai tertawa terkekeh kekeh ketika mendengar dan mengucapkan 'pawpaw'. Sampai-sampai pawpaw menjadi jokes kami. Akhirnya ketika kami pergi berbelanja, kami hunting pawpaw. Elka sudah berani bertanya langsung ke staff supermarket namun hasilnya nihil karena menurutnya saat ini pawpaw tidak ada di pasaran karena tidak musim. Saya bertanya ke seorang ibu yang asik memilih buah kering. Dia menjelaskan bahwa pawpaw (dibaca pupu) itu bentuknya seperti buah melon. (Kami belum mudeng juga seperti apa sih pawpaw itu). Tapi sayang diantara buah kering yang ada di rak, pawpaw tidak ada. Jadi kami hampir pulang dengan kecewa. Rupanya si ibu orang australia yang kami tanya tadi tidak menyerah dan datang membawa sebungkus kecil pawpaw kering ke kami yang sudah di meja kasir. Wah, baik sekali itu orang... Pawpaw seharga $4 itu akhirnya kami bayar dan kami pulang.

Belum sampai di rumah, tidak sabar saya buka bungkusan pawpaw-nya. Bentuknya seperti buah kering lainnya, dipotong segi panjang dan berwarna merah. Saya coba cicipi, sedikit crunchy, dan rasanya manis. Hmm, enak juga saya bilang. Dan semua ikut mencicipi. Hanya saya bilang, sepertinya saya tahu dan pernah makan buah kering ini. Tapi dimana dan buah apa, saya tidak ingat. Setelah makan agak banyak, barulah saya ingat, bahwa ini adalah manisan pepaya! Jadi pawpaw itu PEPAYA! Kami semua tertawa terkekeh-kekeh termasuk Elka dan Farhan. Mereka masih ingat kalau kami punya banyak pohon pepaya di rumah Parung. Dan waktu kecil saya sering makan manisan pepaya itu karena sering sekali diberi oleh tetangga kami (masyarakat Betawi di Poncol, Ciputat) khususnya menjelang lebaran.

Akhirnya jadilah malam itu kami membuat fruit loaf yang kami isi dengan potongan pawpaw. Seru banget. Dari mencari bahan, masak, sampai makan kami lakukan bersama.

Setelah puas makan, saya heran kenapa penyebutan pepaya bisa menjadi pawpaw. Rupanya pawpaw itu diimpor dari thailand. Jadi wajar saya bahasa yang dipakai bukan 'pepaya' tapi pawpaw bahasa thailand (atau bahasa cina juga?). Saya cuma menyayangkan saja. Kok bukan pepaya dari Indonesia yang bejibun banyaknya itu yang dibawa ke Australia. Perasaan di Australia, imigrant dan pendatang Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan imigran Thailand. Tapi makanan-makanan dan buah-buahan segar yang diimpor ke Australia itu lebih banyak dari Thailand. Kelihatannya, bukan saja dari sisi politik dan ekonomi masyarakat Indonesia di luar negeri kurang bisa 'vocal' dibandingkan imigrant lainnya. Sampai urusan makanan pun belum bisa mainstream, dibandingkan diantaranya dengan 'kebab', roti afghan, shushi, pasta, pizza, yang bisa diterima oleh lidah australian. Paling-paling hanya sate yang bisa di go international kan --itu pun kalau belum disabet oleh timur tengah dan malaysia... Duh jadi lapar nih... :)

No comments: