Sunday, June 03, 2007

Sekolah tanpa peng-kelasan

Ini foto guru-guru SD Moreland yang sedang tampil pada acara akhir tahun di sekolah. Iya, mereka pake pita warna-warni, joget di depan anak-anak (kayak poco-poco lah kalau di Indonesia) dengan ceria dan apa adanya. Kenapa tidak? toh yang penting adalah kreativitas dan having fun, disamping bagaimana bisa menghibur dan mengajak orang tua dan murid untuk having fun juga.


Acara akhir tahun adalah acara yang spesial. Setiap kelas (hampir semua murid) diberi kesempatan untuk tampil. Tapi persiapan dilakukan dengan tidak neko-neko. Tidak perlu spanduk besar dan backdrop yang ada tulisan tentang acara, tidak perlu latihan berbulan-bulan yang menyita waktu belajar, dan tidak perlu pakaian khusus yang harus dibeli dengan mengeluarkan uang, tak perlu sewa kursi banyak karena anak-anak cukup duduk di karpet, dan tak perlu iuran untuk konsumsi karena masing-masing membawa bekal piknik. Karya murid-murid selama ini dikeluarkan dan dijadikan hiasan sekaligus pameran hasil karya. Acaranya bisa dibilang sederhana, tapi sangat meriah dan informal. Benar-benar "dari kita untuk kita" begitu.


Penampilan drama pun tidak perlu menghafal. Semuanya tidak dibuat-buat atau dipaksakan supaya terlihat meriah dan bagus. Sesekali terlihat acara tidak teratur, tapi itulah kekuatannya. Untuk apa pura-pura rapih dan baik kalau hanya untuk ditonton sesaat saja? Di sekolah yang penting adalah substansi pembelajaran, bukan simbol-simbol dan formalitas. Maka tidak heran jika sama sekali tidak ada pembuatan rangking murid terpandai. Tidak ada juara-juara-an. Tapi apresiasi terhadap prestasi itu sangat tinggi. Pembagian kelas dari kelas satu sampai enam pun dibuat samar. Dalam satu ruang, seorang guru kelas (plus asistan) mengajar 20 murid yang terdiri dari dua grade (kelas) yang berbeda: misalnya kelas prep dan 1, kelas 1 dan 2, kelas 3 dan 4, serta 5 dan 6.


Tidak hanya pengkelasan fisik yang blur, pengkelasan guru dan murid yang berlebihan pun tidak ada. Hubungan guru dan murid sangat cair. Murid sangat hormat kepada gurunya walaupun mereka memanggil nama guru mereka langsung tanpa embel-embel mrs atau mr. Murid akrab dan tidak takut kepada guru, walaupun guru juga sering memberi hukuman bagi murid yang nakal. Makanya para guru juga tidak perlu jaim dihadapan murid dan orang tua.


Tentu saja tidak ada ujian nasional yang perlu dana besar dan bikin murid stres dan belajar kilat (jadi lupanya juga kilat). Ujian tetap ada, tapi dilakukan biasa saja, tanpa nomor ujian dan hampir ada test setiap minggu (misalnya tes membaca dan tes matematika). Hasil ujian juga bukan satu-satunya penilaian. Karena penilaian di kelas itu lebih banyak kualitatif, bukan kuantitatif. Hal ini sangat jauh dari budaya ujian di Indonesia yang malah mengajarkan budaya nyontek, budaya korup, dan budaya jalan pintas. Tidak heran jika sertifikat dan gelar menjadi tujuan belajar.... Kalau hasilnya negatif, kenapa ya sistem peng-kelasan formal itu termasuk ujian nasional masih tetap diberlakukan ya?

No comments: